Ibu kau begitu mengerti apa yang aku butuhkan, apa yang aku inginkan dan apa yang terbaik untuku. Setiap gerakanmu serat akan tulus kasih dan sayang.
Dulu di sebuah tempat yang indah aku bertanya pada malaikat,”disini begitu indah dan nyaman kenapa aku harus dipindahkan kesebuah tempat yang penuh dengan kotoran? Apakah aku bersalah pada NYA?” malaikat menatapku dengan lembut, dia tidak menampakan sedikitpun rasa kecewa dengan pertanyaanku yang jelas merujuk pada ketidak terimaan pada takdir. Dia menciptakan selukis senyum indah penenang hatiku yang gundah akan kenyataan yang akan aku terima, lahir kedunia. “disana kau akan bertemu makhluk yang melebihi ketulusanku, aku hanya menerima perintahNya. Sedang makhluk itu dengan senaghati merawatmu.” ”berjanjilah padaku wahai malaikat apabila aku tak bertemu dengan makhluk itu bawa aku kembali tinggal diistana Firdaus ini.” Malaikat menganguk. Dengan lembut ia menuntunku menuju sebuah gerbang tinggi sampai tak terlihat ujungnya. Tempat indah itu lama kelamaan mengecil dan menghilang. Dalam sekejap aku ada di dekapan seorang wanita beraroma obat – obatan. Aku bersedih aku seperti kehilangan sesuatu, kini udara yang kuhirup tak sesegar tempat itu. Panas dan baunya tak seharum yang biasa aku datangi. Aku kecewa sekarang aku menagih janji malaikat bertubuh tegap itu. Hatiku berteriak memangilnya. Dia tak juga menampakan wujudnya. Aku mencoba mengatakan ketidak sukaanku tapi yang keluar adalah butiran – butiran air dengan rasa asin. Semua mengerubungiku, menyelimutiku dengan beberapa lembar kain, lalu aku tertidur. Tak lama aku menginap dalam ruangan penuh bayi . Lalu seorang lelaki membawaku keluar dari daerah berbau obat.
Sembilan tahun kemudian, aku telah cukup pintar untuk menghadapi para pembeli jajanan yang aku jajakan didaerh terminal pulogadung. Aku berjalan dibawah terik matahari setelah pulang sekolah. Setiap hari daganganku laku. Kalau ada sisa ayah pasti memukulku dengan sapu. Jumlah pukulannya bergantung pada jumlah sisa makanan. Jadi aku harus ekstra berusaha menjual danganku. Rambutku panjang sepantat warnanya kemerah – merahan, rusak karena tak terrawat.
Disekolah aku bukanlah anak yang bodoh, aku suka bertnaya dan bergaul dengan teman – teman. Beberapa anak sangat suka berada didekatku. Irvan dan Halimah, dua teman karibku. Kami selalu bersalip – salipan juara. Irvan yang cerewet dan Halimah yang pendiam. Kadang aku merasa mereka itu tak membutuhkanku untuk bisa bersama. Mereka adalah sahabat kecil. Aku selalu memilih diam memandang pertengkaran kecil mererka. Memandang mereka seperti sebuah cerita indah dimasa kanak – kanak kami. Masalahnya hanya sepele Irvan yang sering bolos piket, Halimah sicuek tapi perhatian pada Irvan. Terlitas dibenakku mungkin suatu saat mereka akan bertemu dalam ikatan lain, teman hidup. Sepulang dari sekolah aku tak langsung menuju pangkalan kerja. Aku berkunjung kerumah Irvan bersama kedua sahabatku. Irvan dan Halimah bertetanggaan. Halimah selalu main kerumah Irvan karena kedua orang tua Halimah sibuk kerja. Orang tua Irvan cuma penjual Gado-gado. Ibunya baik sekali padaku, dia selalu membuatkan gado – gado special pada kami bertiga. Dia tak pernah pilih kasih pada kami. Semua ia sayang, ialah sosok ibu yang mungkin selama ini aku cari. Sedangkan tentang Halimah, ia anak pemilik salah satu hotel berbintang di Jakarta. Tidak cuman itu ibu Halimah juga memiliki toko emas di sebuah pasar. Tidak heran mukanya cantik , badannya berisi, dan otaknya encer. Wajar kadang aku merasa iri padanya. Kami bertolak belakang. Tapi aku tak mau mengasihani diri ini. Aku masi yakin aku hidup didunia ini pasti ada tujuannya.
Dirumah kardus beratapkan seng aku terduduk menghadap sebuah buku LKS agama.Pelajaran agama sering membuatku bertanya – tanya. Disana tertulis semua yang tak pernah kudapatkan, kasih sayang orang tua. Hobiku adalah menulis pertanyaan – pertanyaan yang akan aku ajukan pada guru, maka LKS itu kucoret – coret. “kenapa ayah tak pernah memberi aku uang jajan? Padahal ia tampan dan sehat bugar””lalu kenapa ada surga kalau banyak orang memilih berjudi dan membuat maksiat? Bukankah neraka itu akan sangat penuh? Cukupkah tempat itu?””berapa jauh surga dari dunia dan berapa tiket masuknya?” kemudian mataku gelap. Dalam mimpiku aku bertemu malaikat yang harum itu. Kami tak bercakap – cakap. Kami hanya saling menatap, lalu dia tersenyum seindah senyum mentari pagi. Dan aku terbangun.
Siang itu aku bertemu ayah setelah beranjak pergi dari rumah Irvan. Mata ayah merah, penampilannya lebih lecek dari pada biasanya. Dia berjalan sempoyongan menuju gerbang rumah Irvan, tempatku berdiri. “hoy anak setan! Kemane aje loe, gue cariin loe. Heh, loe gapain ngemis – ngemis dirumah orang gini? Mana uang gue? Sini mana!” dengan gerakan tegas ayah menarik rambutku kuat. Hingga seperti akan copot dari akarnya. Dan benar sebagian rambutku berada ditangan lengketnya bekas minuman keras. Aku memekik kesakitan, “aw ayah sakit...." ayah seperti tak peduli, ia seret aku hingga halaman rumah kardus. Lalu melepaskan jambakannya itu. Sesaat aku menatapnya heran karena ia berlalu lalang masuk- keluar rumah. Akhirnya ia menatapku tajam memegang sebuah gunting hendak memotong rambutku. Aku hanya bisa menagis dan berteriak memohon ampun. Dan seperti biasa ia tak peduli. Setengah jam kemudian rambutku terpangkas habis. Aku seperti seorang biksu wanita.
Dua hari aku tidur dihalaman tanpa makan sedikitpun. Badanku lemas, penampilanku sudah jauh dari sehat. Suhu badanku menyatakan aku demam tinggi. Aku terduduk disudut depan rumah yang basah karena rembesan embun pagi. Aku tak bisa bicara lagi demam ini membuat sebuah halusinasi. Seorang makhluk yang dulu sempat dijanjikan malaikat datang padaku. Dia mendekapku erat hingga aku tak bisa bernafas. Seketika setelah ia melepas pelukan hangatnya aku telah mencium harum istana firdaus. Aku bertanya padanya,”apakah kau ibuku?” dia seperti malaikat tanpa nama itu. Senyumnya secantik rona wajahnya. Kami berjalan menyusuri tangga berkilau. Karena begitu banyak anak tangganya wanita itu menawariku untuk ia gendong.
Didalam rumah kardus berukuran 2 x 3 ayah terbangun dari pingsannya setelah menenggak lima botol minuman keras dan sebungkus pil. Karena lapar ia keluar mencari anak malang itu. Begitu ia sadar anaknya telah tiada ia hanya terpaku memandang seongok daging tanpa nyawa. Seketika semua sendinya melemas. Sepintas ia melihat sebuah buku LKS yang penuh dengan catatan aneh, ia mencoba membacanya. Lalu Ia menengadah memandang langit, dan untuk pertama kalinya segaris air mata tumpah menyusuri pipinya.
Kami cukup lama untuk menyusuri tangga panjang bersinar aneh itu. Hingga diujung sana aku melihat sesosok peria tegap ber baju putih dengan sayapnya. Akupun turun dari gendongan wanita itu dan berlari menghampiri malaikat tanpa nama. Aku memeluknya erat. “jangan kemana – mana lagi! aku mohon. Aku akan jadi anak baik.” Dia tersenyum lagi, lalu mengandengku dan berkata,”baiklah mari kita kembali ke istana.” Malaikat menepati janjinya.
