Seminggu sudah ku bertarung melawan
ketidak benaran dalam sekian banyak artikel, dan segala hal tentang karya cipta
orang bule. Cleo sudah sangat ribut akhir bulan ini. Ruang berukuran 7x6 dengan
sebuah meja jati kuno dan rak-rak buku adalah hiudupku sekarang. Ku dekati
jendela tanpa tuas yang pemandangannya cukup jujur dari lantai 19. Hanya
terdengar halus suara AC yang sedari tadi setia menemani ku bersama jutaan kata
dalam layar komputer. Abu-abu langit
diatas kepalaku, awan menangis menumpahkan air segar yang menitik, membasahi
tanah lapang diantara pepohonan pinus. Bau tanah bercampur air hujan adalah
aroma kesukaannya. Wanitaku di tanah air beta.
Bulan juni lima tahun lalu
kumengenalnya, namanya juwita. Seorang wanita sederhana yang kadang terlihat
seadanya bukan apa adanya. Dia bukan wanita cantik pada umumnya, dia cenderung
unik. Jangan pernah menyingung tentang berat badan, karena berat badanya tak
dapat diprediksi. Pernah suatu hari kusindir begitu gemuk namun dengan santai
dia berkata,”jangan kau lihat aku dari penampilan sayang.”dan hari berikutnya
pendapat ku dipatahkannya hanya karena pakiannya. “lo kurusan”mataku tak
percaya saat itu. Ternyata benar kata mereka, penampilan bisa menipu. “ckckck,
kan dah gue bilang kemaren.”senyumnya mengembang nakal. Kuakui aku selalu kalah
darinya. Entah sejak kapan itu terjadi, tetapi persahabatan kami ini rasanya
akan sangat lama. Walau kini aku berharap dia akan segera melepas masa
lajangnya dan tentu melihatku sebagai seorang yang selalu ada untuknya.
Aku berlari menyusuri lorong untuk
menyerahkan sebendel materi kuliah, dari kejauhan terlihat wujud mungilnya
dipojok persimpangn jalan, dan aku terhenti. Senyumku masih terkembang sebelum
suaraku tertahan melihatnya berpelukan dengan seorang pria berkacamata mukanya
mirip adi MS. Detik itu juga kusimpulkan sebuah kenyataan bahwa harapan tinggal
harapan. Hampir setahun berlalu, mereka masih begitu dekat. Jujur aku sangat
cemburu, untuk itu aku memilih menjauh dari mereka. Mulailah kutekuni hobiku
untuk menjauhkan rasa sepi dihati paska ketidak hadirannya. Aku memilih masuk
jurnalistik kampus, ku beli sebuah kamera SLR dari hasil ku berekerja menjadi
seorang penulis lepas disebuah majalah remaja. Nama penaku adalah azna(cemerlang).
Dari jalan yang kutempuh ini ku mengenal seorang yang cukup menginspirasi, pak
sapardi. Dia sering menjadi tempatku berkeluh kesah baik mengenai masalah
kampus dan kadang masalah hati. Dia seorang yang bijak dimataku. Mungkin dia
adalah sesosok ayah di kota metropolis ini, kadang anak rantau seperti aku ini
agak melo kurasa. Sedikit putus cinta, nangisnya lama, kaya gerbong kereta. Bapak
selalu mengajariku tulus dan bersabar dalam menghadapi segala kejadian yang
datang pada hidup. “Karena hidup manusia akan selalu baru setiap harinya dan waktu
tak akan segan berlari meninggalkan manusia yang berhenti berjuang.” Lalu dia
goreskan tinta birunya diselembar amplop usang. Sebuah sajak lepas yang segar
telah lahir dari kisah perihku, judulnya aku ingin. Aku takkan pernah melupakan
tetuah bapak. Mulai kurelakan Juwita pergi, aku mencari pelarian menjadi
aktifis kampus. Seketika satu fakultas menjadi mengenalku tepat semester lima
kumulai menjadi ketua Persatuan Jurnal Kamps(PJK). Sedangkan kisah cintaku
menggantung dilangit-langit blog pribadiku dalam
kacamataku. Ini blog berisi semua perasaanku pada Juwita, namanya selalu
kusebut dalam karanganku, orang dungu pun akan tahu itu dia.
Awal semester tujuh kudengar mereka
putus, Juwita dan lelaki itu. Pantas kemarin kulihat dia bersama
sahabat-sahabat wanitanya tanpa ada kehadiran si buntut. Seusai mengikuti
perkuliahan aku lantas disibukkan dengan urusan hobi. Saat aku hendak
menyerahkan proposal kegiatan pada pengurus BEM tak sengaja ku berpapasan
dengannya, wanita pujaanku. “hi ziz, lo lama gak keliatan abis pindah
kelas.”lantas dia menarikku duduk dibangku yang letaknya dekat dengan tangga
lantai satu. “ya gitu deh sibuk kegiatan jurnalis.”matanya mengembang, aroma
mawar jelas ku bau. “wit aku lagi sibuk bisa aku pamit duluan?”tanganku
mendadak tegang dipegang kuat olehnya. “gwe putus dari arya ziz, gwe…. Sayang
banget sama dia”suara getir tertangkap telingaku, kupandang focus kearah
suaranya. “gwe bole pinjem pundak lo gak?”satu persatu air matanya meleleh
cepat, begitu dekat rasanya ingin kudekap dan ku bawa kesurga bidadari cantik
ini. “det det det” handphone q bergetar keras mengagetkannya.”maaf wit aku
beneran harus pergi sekarang.” Kuhapus jejak perih di pipi hausnya. “udah ya,
aku tau kamu itu cewe terkuat yang pernah aku kenal.” Dia cubit lengan
kurusku,”aw”begitu aku tertunduk merintih dia bangkit berdiri,”makasih ya udah
nemenin aku, thanks”dia berlalau. Sarafku mengendur, sepertinya energi ku
hilang sepauh bersamanya,bersama punggung indah yang semakin mengecil dari
pandanga.
Kami tak bisa lagi dekat seperti dulu, selain
kelas, waktu kuliah, dan hobi yang berbeda jelas sudah tercipta geb diantara
kita. Dinding tembus pandang yang kami ciptakan dalam kebisuan. Aku sudah biasa
membisu sebelum berkenalan dengannya, maka semua itu mudah ketimbang dia yang
banyak bicara. Bersamaan dengan terpilihnya aku menjadi ketua PJK, Juwita
menempati wakil ketua BEM fakultas sastra, dan aku tersenyum melihat
kehebatannya. Beranjak dari kebanggaanku tadi tiba-tiba hati ini teriris ketika
melihat kenyataan bahwa belahan jiwaku harus menangis merelakan kepergian
lelaki itu. Aku berjalan membayangkan tangisnya ruah keluar dari pelupuk mata
coklatnya. Jalanku terhenti, dadaku sesak, aku berlari melewati lorong mencari
tempat sepi. Aku memilih memacu kendaraanku melepas kesal berlapis kesedihan
ini. Kenapa bukan aku? kenapa harus segitu dalam dia mencintai peria itu?
Kenapa dengan pria tak setia itu? Kenapa tak ungkapkan saja perasaan ini
sebelum mereka bertemu?
“Tok tok tok tok tok” suara ketukan
cepat dan keras membentur-bentur pintu kosku. “ziz si arya D3 Jepang
kecelakaan abis semalem pesta kelulusan ”
situasi ini terbaca lambat oleh kondisi setengah sadarku, “iya deh gwe ke WC
dlu.”jalanku sempoyongan. “cepet ya!”saut yono sambil berlalu.
Dalam kamar VIP ruang flamboyan terbaring seorang pria koma yang kemarin baru saja memutus hubungan dengan sesosok wanita didekatnya. Apakah ini karma? Atau ujian baginya? Juwita masih menitikkan airmata disudut gelap matanya. Mengegam erat telapak tangan Arya yangterkulai lemas hanya infus dan selang oksigen yang membantunya hidup. Apa yang aku takutkan terjadi, Juwita memiih tetap tinggal dan menjaganya.
Dalam kamar VIP ruang flamboyan terbaring seorang pria koma yang kemarin baru saja memutus hubungan dengan sesosok wanita didekatnya. Apakah ini karma? Atau ujian baginya? Juwita masih menitikkan airmata disudut gelap matanya. Mengegam erat telapak tangan Arya yangterkulai lemas hanya infus dan selang oksigen yang membantunya hidup. Apa yang aku takutkan terjadi, Juwita memiih tetap tinggal dan menjaganya.
Entah sampai kapan Juwita kan jadi
satpam? Malahan selingkuhannya tak pernah sekalipun menampakan batang
hidungnya, pengecut! “dasar loe, nyadar gak wit cowo yang loe pelihara ni punya
simpenan. napa loe masi setia gini si? Udah semester delapan kita ini wit.”una
nerocos dibelakang punggung Juwita yang sedang mengusap tangan Arya dengan kain
basah. “gak papa gue juga udah nyusun proposal koq.” Mencoba menenangkan una
dengan segaris senyum letih. “udah lah wit, dia itu udah gak pantes loe
perjuangin. Pliss tolong ngerti.” Kini tatapan mereka lekat degan posisi una
terejongkok dibawah, dan Juwita memegang pundah una,”gue gak akan bilang cinta
kalau gue gak bisa tau maknanya. Gue gak mau jadi pembual
Kau bilang suka hujan,
tapi kau memakai payung, saat berjalan dibawahnya
Kau bilang suka matahari, tapi kau malah berteduh, saat matahari bersinar
Kau bilang suka angin, tapi saat angin menghampirimu, kau malah menutup jendela
Dan saat itulah aku takut, saat kau bilang suka padaku,
“puisi itu lagi kenapa sih loe suka bgt ama puisi si gembel entu? Dia aja punya idup gak jelas. Udah lah gue balik aja.”wanita itu bergegas menyambar tasnya dikursi sofa dan menghilang ditelan pintu. “gue suka puisi ini karena loe pernah matahin puisi ini Arya” disentuhnya pelan kepala Arya.
Kau bilang suka matahari, tapi kau malah berteduh, saat matahari bersinar
Kau bilang suka angin, tapi saat angin menghampirimu, kau malah menutup jendela
Dan saat itulah aku takut, saat kau bilang suka padaku,
“puisi itu lagi kenapa sih loe suka bgt ama puisi si gembel entu? Dia aja punya idup gak jelas. Udah lah gue balik aja.”wanita itu bergegas menyambar tasnya dikursi sofa dan menghilang ditelan pintu. “gue suka puisi ini karena loe pernah matahin puisi ini Arya” disentuhnya pelan kepala Arya.
Entah apa yang dia lakukan di hujan
gerimis buan Juni ini, aku selalu terheran-heran hingga ku abadikan posenya
yang membiarkan hujan mebasahi busana hitam paska pemakaman Arya dengan LSR ku.
Kejadian itu ku ceritakan pada pak Sapardi sebelum aku berangkat memenuhi
undangan kerja di Australia. Tak beberapa lama kemudian sebuah email masuk
berisikan puisi karya terbaru bapak, Huja Bulan Juni.
