Gemerlap lampu ibukota membutakan batin sebagian orang. Moral seperti terhempas dengan mudahnya, tergadai oleh kenikmatan sesaat. Di pojokan wanita muda dengan kerudung hitam yang suka menyendiri. Keadaan sekitarnya begitu porak poranda karena mulut para munafik. Mereka itu sungguh tau dimana tempat yang paling menyakitkan baginya. Setetes demi setetes air mata tak berdosa dalam diri wanita itu mengalir keluar. Mereka merasa dunia luar begitu dingin tanpa penghangat yang hadir menemani wanita itu. Mereka bertanya – tanya, apakah tak adil seperti ini dunia nyata itu? Lalu dengan sedikit gerakan wanita itu menyeka mereka hingga hening kembali ditiupkan sang waktu. Kemudian jenuh datang kini giliran wanita itu bergerak, maka sang waktu bersanding dengannya. Lelah pun berbisik pada wanita itu, “kau tak sekuat sang waktu sudahlah berhenti sejenak! Aku berjanji akan menemanimu.” Maka wanita itu berhenti sejenak, namun lelah ingkar janji. Wanita itu mengerutkan dahinya, kemudian berjalan tanpa tujuan. Mulutnya bergetar sejenak, “waktu”. Seketika itu juga ia berlari menyusuri jalan beraspal diantara sawah dan kali dibagian kiri. Dengan cepat ia berlari hingga ia melihat sebuah gazebo ditengah sawah. Disana beberapa orang telah asik mengobrol dengan riang, dari jauh terdengar tawa. Tawa mereka memberi sedikit semangat baginya untuk mempercepat langkahnya. Rindu kini mengambil alih peran dilubuk hatinya,”mereka yang kau tunggu.”sebuah sapaan jelas, serempak, dan kencang itu mempertegas kebenaran rindu. Seketika sang waktu tersenyum dan menghentikan langkahnya.
Rabu, 11 Januari 2012
Benang Merah yang Lama Terikat
Anak pertama sebuah julukan yang amat biasa ditelinga manusia. Mungkin untuk beberapa abad silam, namun bagiku sekarang itu sungguh memilukan. Aku anak pertama dari tujuh bersaudara di era pramoderen. Sita julukan ku, julukan yang entah dari mana asalnya. Karena sesungguhnya namaku sartika maharani. Ayahku seorang tukang cetak, ibuku pemilik sebuah toko minimalis di sudut desa. Bisa dibayangkan betapa memaksakannya merka melahirkan ketujuh anaknya serentak diera keluarga berencana. Terpaksa beberapa adikku putus sekolah untuk menunggu aku lulus dari perkulihan. Merekalah semangat ku selama tiga tahun ini. Mereka malaikat – malaikat kecil yang selalu ada untukku. Senyum mereka adalah oase penghilang dahaga jiwa.
Kos ku berada di perumahan sederhana bernama Vila Tembalang. Pagi ini aku dijemput pacarku, kami sering berangkat kuliah sama – sama. Namanya idris anak perantau, tubuhnya lebih gemuk dariku tingginya beberapa senti diatas ku. Kami pasangan yang paling aneh menurut teman – teman. Dimana kami ini jarang sms atau pun bertelepon selayaknya sepasang kekasih. Kami hanya mengedepankan rasa percaya dan tengangrasa. Kami ga butuh gombalan yang hanya terluncur dalam hitungan detik tapi kami butuh tindakan nyata. Sudah dua tahun kami bersama. Dia kakak tingkatku jurusan teknik mesin pesawat. Sudah 30 menit ku sabar menunggunya, dibawah pohon jati dekat kosan ku aku berteduh dari panasnya kota Semarang. Sungguh diluar dugaan jam tangan ku menyatakan aku akan segera terlambat datang, karena menunggu si Idris. Lima menit kemudian dia datang dengan wajah lusuh dan keringat bercucuran. Marah ku luntur bersama tetesan demi tetesan air didahinya. Kudatangi dia dengan sebuah senyuman serta sebuah serbet kuusap keringatnya.”yang dari mana aja udah telat lo.”bukan suara yang aku harapkan,”gila supir angkot Tembalang ini sudah motor ku didesaknya ga mau ngaku juga, jelas – jelas saksinya banyak. Dasar angkot anjing!”teriakan amarahnya membuat ku kaget. Selama ini dia jarang mengumpat seperti ini. “yang! Ngomong apa?”sindirku mengingatkan. “ah sudah lah ayo kita berangkat.” Akhirnya aku benar – benar telat mengikuti mata kuliah pertama ku.
Setelah 2 jam mengikuti perkuliahan perutku terasa sangat terguncang, dalam artian lapar. Aku berjalan santai menuju kantin kampus dalam lorong berukuran satu setengah meter aku berpikir dimana Idris sekarang, saat hendak ku pencet tombol di hand phone, ku lihat seorang wanita bermuka mungil menghampirinya dan mengandeng tangannya lalu mereka berlalu. Apa maksud dari kenyataan yang baru saja terjadi didepan mataku ini. Karena penasaran ku ikuti mereka, lantai tiga sebuah lantai yang akan menjadi saksi bisu apa yang sebenarnya terjadi. Aku tau dia seorang aktifis, aku bisa memaklumi semua yang ia lakukan, melalikan janji kencan, melupakan hari jadi kita. Tetapi aku tidak bisa mentolelir aku bukan lagi satu – satunya bagi dia. Ruang gelap didekat kamar mandi peria itu lokasi mereka berada. Dua pasang sepatu berwarna merah dan coklat. Pintunya sedikit terbuka, dari celah sempit itu aku melihat kedekatan jarak mereka. Kutunggu waktu yang tepat. Posisi yang aku lihat sekarang wanita itu menghadap tembok didepan Idris. Mereka berjajar seperti sedang membuat sebuah garis. Mereka bicara begitu lirih hingga tak bisa kudengar apa yang mereka bicarakan. Lama – lama Idris bangkit dari sandarannya ditembok belakang, lalu mereka bertatapan lekat. Hatiku semakin panas, rasanya ingin kubunuh pacarku mungkin itu judul yang tepat untuk mengambarkan perasaan ku saat ini. Tangan wanita itu menggandeng Idris lagi, lalu dia tersenyum manis, air mata wanita itu meleleh deras. Wanita itu terjongkok didepan Idris. Wajar Idris ikut berjongkok lalu berlahan gerakan menghibur dilakukannya. Mereka berpelukan cukup lama sekitar 10 menit. Sebenarnya ingin ku berteriak, namun terlanjur tidak sampai hati. Mungkin memang baiknya terjadi untuk membuat wanita itu sedikit lega. Aku wanita pastilah ku juga ingin dihibur tatkala sesuatu yang menyakitkan menghujat lubuk hati ku ini. Mungkin memang sebaiknya tidak memiliki perasaan. Sehingga rasa sakit itu juga tak pernah ada.
Sepulang dari kampus aku telepon Idris, “maaf sayang aku lagi ada rapat”. “oke, ntar lo uda selesai sms ya. Lo ga telepon balik.” ”ea.”sering ku berpikir aku hanya sebuah selingan bagi dirinya. Hanya sebuah penghibur ketika dia merasa bosan dengan kerutinitasannya. Sungguh membuat ku merasa sangat sedih harus merasa sendiri ketika aku memiliki seorang kekasih. Berkali – kali ku ingin melepaskan rasa penat karena harus bersabar dari sikap egoisnya. Tetapi aku sungguh masih menyayanginya. Sungguh jujur dari lubuk hati yang terdalam aku mencintainya. Bukan rupa atau kekayaannya yang aku lihat, dia memiliki sesuatu yang dari dulu ku ingin kan. Ketegasan, kasih sayang, dan sedikit perhatian. Ya sedikit perhatian yang amat membuatku merindukan kembalinya perasaan itu. Idris sang penyayang. Dia dilantai tiga, aku dilantai satu, aku emang tak suka berkumpul dengan anak – anak buletin. Selain tukang gosip, mereka juga kurang ramah. Sangat membosankan, berkesan kaku. Aku tidak nyaman dengan mereka. Sok sekali berkeluarga nyatanya saat aku datang tak ada keramahan yang menyelimuti mereka. Hanya dingin dan sunyi yang ku dapat. Aku terus menunggu hingga penduduk lantai satu bisa dihitung dengan jari. Tak sabar juga setlah ku lihat jam tanganku waktu menunjukan pukul 07.00 WIB. “hah! Mana dia?”sontak ku matikan leptop ku yang sedari tadi menemaniku menunggu lelaki aneh itu. Ku telepon dia”yang kamu dimana?” “aku uda ada dikos yang, kenapa?””buset kamu lupa aku nungguin kamu dari tadi, aku masi di kampus taokkkkkkk, jemput sini!” “ea ea yang sabar ya, mas datang membawa kuda putih, hohoho””ah mana ada itu, yg ada motor astrea butut, berlagak segala dah ayo cepet ksini!” “siap nyah, nyahnya bawel banget deh.” Tut.... pembicaraan telepon yang singkat, tadi itu sungguh menyenangkan. Walau sangat sepele tapi suasana renyah dan aneh itu yang paling ku suka dari perjalanan hubungan kita. Kami selalu sabar satu sama lain. Sepuluh menit kemudian dari kejauhan sekian meter terdengar teronton alias astrea butut si Idris. Dalam hati aku sedikit terbahak,dimukaku tergurat selembar senyum tulus yang ku persembahkan hanya untuknya.
Paginya seperti biasa burung kutilang tetangga sebelah kos ku berkicau menyapa hari baru. Ku diam merasakan kesegaran yang amat berbeda jauh dari kenyataan bahwa ini udara kota besar, Semarang. Telepon gengamku berdering nyaring, sebuah sms singkat dari Idris. Dia mengatakan semalam lembur jadi tidak bisa mengantarkan ku berangkat kuliah. Apa boleh buat, tengangrasa adalah moto kami. Walau seringnya aku yang mengalah. Aku memilih diam saja karena ini belum begitu keterlaluan. Jempolku nakal hendak menanyakn perihal tentang peristiwa kemarin, namun kuurungkan.
Setelah siap semua persiapan serta wujud yang serupa bidadari telah ku ciptakan, aku siap berangkat. Kucegat angkot didepan tugu. Lama sekali ku menunggu, lalu entah perasaan apa yang membelit hati serta pikiranku. Kakiku bergerak masuk kekawasan kos Idris yang tak jauh dari halte didekat tugu tadi. Di depan kosannya kutemukan sepasang sepatu wanita. Sekali lagi aku melihat pemandangan serupa. Aku berteriak membangunkan seantero kos cowok itu. Sontak Idris menghampiri aku dan mencoba menjelaskan apa yang terjadi. Namun aku kalap, mataku gelap oleh api cemburu. Kutampar mukanya lalu tangisku meluap, aku berlari sekuat tenaga. Lari terus lari, hingga nafasku habis dan lututku lemas. Entah dimana aku berhenti saat itu yang pasti aku menjerit sekuat – kuatnya lalu terduduk hingga amarahku mereda beberapa jam kemudian.
Lamunku mengingat awal kami berjumpa, dia begitu sadis tak banyak bicara. Dia sungguh bukan tipeku bukan impianku selama ini, gendut, coklat, bermuka bulat. Lambat taun kami berjumpa dalam dunia maya. Aku jail mengomentari tulisan – tulisannya. Semakin lama dia semakin mendekatiku hingga kami mulai sering janjian berjumpa, joging, nonton bersama. Lalu mulai sekitar sebulan kemudian dia memberanikan diri memintaku menjadi pacarnya. Aku tolak karena melalui sms dan aku berkata lebih menghargai cowok yang berani bicara secara langsung. Aku lupa kalau dia itu salah satu aktifis mahasiswa, ketua dari buletin kampus. Dengan senang hati ia kabulkan keinginanku. Kami akhirnya jadian. Hambatan berikutnya kami harus sabar dengan hinaan, ejekan, serta pendapat anak – anak kampus. Tapi kami tulikan kuping kami karena cinta. Sesungguhnya pada saat itu aku belum benar – benar mencintainya sehingga hanya rasa kasihan yang ada. Kini ketika cinta itu berkembang dan menguasai diri ku, rasanya sangat menyakitkan. Apalah sebenarnya maksud dari sekenario Tuhan ini?
Seminggu sudah ku menunggu kepastian hubungan kita, dia terlalu angkuh, dia tak pernah mau mengalah. Akhirnya kunyatakan ini berakhir, sungguh aku ingin mendengar kenyataan sebaliknya, karena didalam hatiku masih tertanam setitik harapan. Beberapa detik kemudian tangan ini sudah mengegam telepon hendak menyudahi derita dalam hati. Sebuah sms masuk dengan jelas tertulis namanya dilayar. Kini ku balas dengan ketus. Hanya maaf yang ia tulis didalam sana. Terus dan terus, tak kuat lagi akhirnya kata putus itu keluar juga. Benang merah yang terlilit didiriku kulepas paksa.
Baru ku tau ternyata aku tak sepemaaf DIA, sudah sebulan kami tak berhubungan. Kuakui ini sesuatu yang menyakitkan. Otakku usil hatiku bergemuruh rindu tiada henti. Komputer didepan mata seperti transparan. Hatiku membajak para pekerja diotakku. Kubuat akun baru bernama Laila, ku sekedar mencari pelipur hati ku. Dan itu berkelanjutan untuk kedua kalinya aku jatuh cinta pada orang yang sama. Ia masih merindukan aku, sungguh teguh terhadap hubungan yang telah lama kupandang berakhir. Namun dimatanya kita hanya sejenak beristirahat melepas hubungan, mencari obat dari kebutuhan masing – masing hati yang berbeda. Aku sangat tahu dia memang dewasa dan cerdas. Dua unsur tersebut yang membuat ku betah hadir disisinya. Ketika dia bercerita semua terasa berhenti, hanya suaranya yang aku dengar,rayuan tak jelas meluncur dari mulutnya ketika kita berdua. Walau terasa sangat kaku tapi aku merasa nyaman didekatnya,yang kutakut sebaliknya dia tidak nyaman dengan aku bersanding dengannya didepan teman – temannya. Sering kuberpikir aku hanya sebagai teman jalannya, hingga ia tak nyaman bersandingku didepan mereka. Lebih – lebih sebagian besar komunikasi kita hanya sebatas sms, selebihnya hanya sebuah setatus yang kosong. Kalut pikiranku menimbang – nimbang apa masih pantas Idris diperjuangkan?
Hari Kamis ini kuliahku dimulai jam tujuh pagi. Berasa anak SD,berburu angkot bersama anak – anak sekolah. Senyumku jelas tersunging, hatiku terbahak – bahak, rasanya sudah lama sekali aku tak menyadari betapa asiknya menunggu angkot dengan hati deg – degan antara telat dan keberhasilan datang tepat waktu. Dalam angkot aku menerawang melihat betapa mesranya hubungan ku dengan Idris selama ini, lalu aku tersenyum kecut ketika mengingat kenyataan kau telah singel. Lalu aku sedikit mendengus, dan mengedarkan pandanganku keawan yang berarak. Ternyata tanpa dia juga gak ada bedanya, aku tetap hidup, aku tetap bernafas dan bisa tersenyum. Yah aku sudah rela.
permukaan APA awal?
kau_
diam q mengagumimu
tersedak q memikirkanmu
kau sebuah cerita indah yang pernah q miliki
sebuah mendung berair tawa
sederet kisah sepele
sebuah album persahabatan
tulusmu menguatkn ku
kau indah
sesosok panutan tanpa hinaan
sesuatu yang ku kejar namun q terhenti habis nafas ku.
kumasih menunggu diatas rumput kering ini
rumput tempat bermain layangan.
sepucuk daun hati_
kutuliskan sebuah lagu hati di sepucuk daun
ku tulis jelas namanya
hingga habis luas dan lebar daun itu
kusimpan hingga mengering benar benar kering hendak rapuh
tapi tak jua yang dituju datang menanyakan lagu itu,
ya mungkin dia benar - benar sudah lupa.
Langganan:
Komentar (Atom)

