Rabu, 11 Januari 2012

KEBUTUHAN HATI


Gemerlap lampu ibukota membutakan batin sebagian orang. Moral seperti terhempas dengan mudahnya, tergadai oleh kenikmatan sesaat. Di pojokan wanita muda dengan kerudung hitam yang suka menyendiri. Keadaan sekitarnya begitu porak poranda karena mulut para munafik. Mereka itu sungguh tau dimana tempat yang paling menyakitkan baginya. Setetes demi setetes air mata tak berdosa dalam diri wanita itu mengalir keluar. Mereka merasa dunia luar begitu dingin tanpa penghangat yang hadir menemani wanita itu. Mereka bertanya – tanya, apakah tak adil seperti ini dunia nyata itu? Lalu dengan sedikit gerakan wanita itu menyeka mereka hingga hening kembali ditiupkan sang waktu. Kemudian jenuh datang kini giliran wanita itu bergerak, maka sang waktu bersanding dengannya. Lelah pun berbisik pada wanita itu, “kau tak sekuat sang waktu sudahlah berhenti sejenak! Aku berjanji akan menemanimu.” Maka wanita itu berhenti sejenak, namun lelah ingkar janji. Wanita itu mengerutkan dahinya, kemudian berjalan tanpa tujuan. Mulutnya bergetar sejenak, “waktu”. Seketika itu juga ia berlari menyusuri jalan beraspal diantara sawah dan kali dibagian kiri. Dengan cepat ia berlari hingga ia melihat sebuah gazebo ditengah sawah. Disana beberapa orang telah asik mengobrol dengan riang, dari jauh terdengar tawa. Tawa mereka memberi sedikit semangat baginya untuk mempercepat langkahnya. Rindu kini mengambil alih peran dilubuk hatinya,”mereka yang kau tunggu.”sebuah sapaan jelas, serempak, dan kencang itu mempertegas kebenaran rindu. Seketika sang waktu tersenyum dan menghentikan langkahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar