Sabtu, 07 Juni 2014

ATAU KAH



aku telah biasa tampa mu namun ku tau kau telah menunggu ku kembali dalam dekap kasihmu. 
sungguh aku juga demikian.
aku juga merindukanmu bahkan aku terus menutupi kuat rindu dalam batin ini agar suatu ketika aku bisa kembali menikmati indah bersamamu.
tetaplah seperti ini tanpa batas waktu
karena aku menginignkanmu tanpa perubahan, karena aku memang sudah menyukaimu
benar benar kamu

aku tak akan merubahmu menjadi seorang pangeran, seperti dalam mimpi ku hanya saja biarkan ku menjadi satu satunya

hanya aku dan kamu  
bisakah?
atau biarkan ku melupakanmu 
merelakanmu 
memilih kembali jalan hidupku

kembali tak mengenalmu seperti awal kita bertemu.
dan berkata, kau bukan jalan hidupku.

KAU SIAPA

satu demi satu waktu bergulir mengiringi langkah dan gerak jantung
jantung yang pernah berdetak karena mu
hati yang pernah kau diami  

satu demi satu rangkaian kata melebur dan terputus-putus
lama makin lama
sebuah tanya tergurat dibatin serta akal
kau siapa?






Minggu, 26 Januari 2014

untuk Endah

baru kurasa pertumbuhan ini menyamai bentuk seorang dewasa
bahkan aku tak tau sejak kapan ini di mulai
dan kemudian q mulai  meninggalkan bentuk yang pernah aku miliki untuk bertemu denganmu
ndul, kau akan terus dengan wujud itu
menyaksikan aku dari atas sana.
kau yang sedang dalam masa indah mu
kan terus indah dihati dan ingatan ku.
indah
indah indah indah
selamanya kau kan jadi indah saudara ku


Minggu, 21 Juli 2013

Aku Tak Membenci Hujan



Seminggu sudah ku bertarung melawan ketidak benaran dalam sekian banyak artikel, dan segala hal tentang karya cipta orang bule. Cleo sudah sangat ribut akhir bulan ini. Ruang berukuran 7x6 dengan sebuah meja jati kuno dan rak-rak buku adalah hiudupku sekarang. Ku dekati jendela tanpa tuas yang pemandangannya cukup jujur dari lantai 19. Hanya terdengar halus suara AC yang sedari tadi setia menemani ku bersama jutaan kata dalam layar komputer.  Abu-abu langit diatas kepalaku, awan menangis menumpahkan air segar yang menitik, membasahi tanah lapang diantara pepohonan pinus. Bau tanah bercampur air hujan adalah aroma kesukaannya. Wanitaku di tanah air beta.
Bulan juni lima tahun lalu kumengenalnya, namanya juwita. Seorang wanita sederhana yang kadang terlihat seadanya bukan apa adanya. Dia bukan wanita cantik pada umumnya, dia cenderung unik. Jangan pernah menyingung tentang berat badan, karena berat badanya tak dapat diprediksi. Pernah suatu hari kusindir begitu gemuk namun dengan santai dia berkata,”jangan kau lihat aku dari penampilan sayang.”dan hari berikutnya pendapat ku dipatahkannya hanya karena pakiannya. “lo kurusan”mataku tak percaya saat itu. Ternyata benar kata mereka, penampilan bisa menipu. “ckckck, kan dah gue bilang kemaren.”senyumnya mengembang nakal. Kuakui aku selalu kalah darinya. Entah sejak kapan itu terjadi, tetapi persahabatan kami ini rasanya akan sangat lama. Walau kini aku berharap dia akan segera melepas masa lajangnya dan tentu melihatku sebagai seorang yang selalu ada untuknya.
Aku berlari menyusuri lorong untuk menyerahkan sebendel materi kuliah, dari kejauhan terlihat wujud mungilnya dipojok persimpangn jalan, dan aku terhenti. Senyumku masih terkembang sebelum suaraku tertahan melihatnya berpelukan dengan seorang pria berkacamata mukanya mirip adi MS. Detik itu juga kusimpulkan sebuah kenyataan bahwa harapan tinggal harapan. Hampir setahun berlalu, mereka masih begitu dekat. Jujur aku sangat cemburu, untuk itu aku memilih menjauh dari mereka. Mulailah kutekuni hobiku untuk menjauhkan rasa sepi dihati paska ketidak hadirannya. Aku memilih masuk jurnalistik kampus, ku beli sebuah kamera SLR dari hasil ku berekerja menjadi seorang penulis lepas disebuah majalah remaja. Nama penaku adalah azna(cemerlang). Dari jalan yang kutempuh ini ku mengenal seorang yang cukup menginspirasi, pak sapardi. Dia sering menjadi tempatku berkeluh kesah baik mengenai masalah kampus dan kadang masalah hati. Dia seorang yang bijak dimataku. Mungkin dia adalah sesosok ayah di kota metropolis ini, kadang anak rantau seperti aku ini agak melo kurasa. Sedikit putus cinta, nangisnya lama, kaya gerbong kereta. Bapak selalu mengajariku tulus dan bersabar dalam menghadapi segala kejadian yang datang pada hidup. “Karena hidup manusia akan selalu baru setiap harinya dan waktu tak akan segan berlari meninggalkan manusia yang berhenti berjuang.” Lalu dia goreskan tinta birunya diselembar amplop usang. Sebuah sajak lepas yang segar telah lahir dari kisah perihku, judulnya aku ingin. Aku takkan pernah melupakan tetuah bapak. Mulai kurelakan Juwita pergi, aku mencari pelarian menjadi aktifis kampus. Seketika satu fakultas menjadi mengenalku tepat semester lima kumulai menjadi ketua Persatuan Jurnal Kamps(PJK). Sedangkan kisah cintaku menggantung dilangit-langit blog pribadiku dalam kacamataku. Ini blog berisi semua perasaanku pada Juwita, namanya selalu kusebut dalam karanganku, orang dungu pun akan tahu itu dia.
Awal semester tujuh kudengar mereka putus, Juwita dan lelaki itu. Pantas kemarin kulihat dia bersama sahabat-sahabat wanitanya tanpa ada kehadiran si buntut. Seusai mengikuti perkuliahan aku lantas disibukkan dengan urusan hobi. Saat aku hendak menyerahkan proposal kegiatan pada pengurus BEM tak sengaja ku berpapasan dengannya, wanita pujaanku. “hi ziz, lo lama gak keliatan abis pindah kelas.”lantas dia menarikku duduk dibangku yang letaknya dekat dengan tangga lantai satu. “ya gitu deh sibuk kegiatan jurnalis.”matanya mengembang, aroma mawar jelas ku bau. “wit aku lagi sibuk bisa aku pamit duluan?”tanganku mendadak tegang dipegang kuat olehnya. “gwe putus dari arya ziz, gwe…. Sayang banget sama dia”suara getir tertangkap telingaku, kupandang focus kearah suaranya. “gwe bole pinjem pundak lo gak?”satu persatu air matanya meleleh cepat, begitu dekat rasanya ingin kudekap dan ku bawa kesurga bidadari cantik ini. “det det det” handphone q bergetar keras mengagetkannya.”maaf wit aku beneran harus pergi sekarang.” Kuhapus jejak perih di pipi hausnya. “udah ya, aku tau kamu itu cewe terkuat yang pernah aku kenal.” Dia cubit lengan kurusku,”aw”begitu aku tertunduk merintih dia bangkit berdiri,”makasih ya udah nemenin aku, thanks”dia berlalau. Sarafku mengendur, sepertinya energi ku hilang sepauh bersamanya,bersama punggung indah yang semakin mengecil dari pandanga.
 Kami tak bisa lagi dekat seperti dulu, selain kelas, waktu kuliah, dan hobi yang berbeda jelas sudah tercipta geb diantara kita. Dinding tembus pandang yang kami ciptakan dalam kebisuan. Aku sudah biasa membisu sebelum berkenalan dengannya, maka semua itu mudah ketimbang dia yang banyak bicara. Bersamaan dengan terpilihnya aku menjadi ketua PJK, Juwita menempati wakil ketua BEM fakultas sastra, dan aku tersenyum melihat kehebatannya. Beranjak dari kebanggaanku tadi tiba-tiba hati ini teriris ketika melihat kenyataan bahwa belahan jiwaku harus menangis merelakan kepergian lelaki itu. Aku berjalan membayangkan tangisnya ruah keluar dari pelupuk mata coklatnya. Jalanku terhenti, dadaku sesak, aku berlari melewati lorong mencari tempat sepi. Aku memilih memacu kendaraanku melepas kesal berlapis kesedihan ini. Kenapa bukan aku? kenapa harus segitu dalam dia mencintai peria itu? Kenapa dengan pria tak setia itu? Kenapa tak ungkapkan saja perasaan ini sebelum mereka bertemu?
“Tok tok tok tok tok” suara ketukan cepat dan keras membentur-bentur pintu kosku. “ziz si arya D3 Jepang kecelakaan  abis semalem pesta kelulusan ” situasi ini terbaca lambat oleh kondisi setengah sadarku, “iya deh gwe ke WC dlu.”jalanku sempoyongan. “cepet ya!”saut yono sambil berlalu.

Dalam kamar VIP ruang flamboyan terbaring seorang pria koma yang kemarin baru saja memutus hubungan dengan sesosok wanita didekatnya. Apakah ini karma? Atau ujian baginya? Juwita masih menitikkan airmata disudut gelap matanya. Mengegam erat telapak tangan Arya yangterkulai lemas hanya infus dan selang oksigen yang  membantunya hidup. Apa yang aku takutkan terjadi, Juwita memiih tetap tinggal dan menjaganya.
Entah sampai kapan Juwita kan jadi satpam? Malahan selingkuhannya tak pernah sekalipun menampakan batang hidungnya, pengecut! “dasar loe, nyadar gak wit cowo yang loe pelihara ni punya simpenan. napa loe masi setia gini si? Udah semester delapan kita ini wit.”una nerocos dibelakang punggung Juwita yang sedang mengusap tangan Arya dengan kain basah. “gak papa gue juga udah nyusun proposal koq.” Mencoba menenangkan una dengan segaris senyum letih. “udah lah wit, dia itu udah gak pantes loe perjuangin. Pliss tolong ngerti.” Kini tatapan mereka lekat degan posisi una terejongkok dibawah, dan Juwita memegang pundah una,”gue gak akan bilang cinta kalau gue gak bisa tau maknanya. Gue gak mau jadi pembual

Kau bilang suka hujan, tapi kau memakai payung, saat berjalan dibawahnya

Kau bilang suka matahari, tapi kau malah berteduh, saat matahari bersinar

Kau bilang suka angin, tapi saat angin menghampirimu, kau malah menutup jendela

Dan saat itulah aku takut, saat kau bilang suka padaku,


“puisi itu lagi kenapa sih loe suka bgt ama puisi si gembel entu? Dia aja punya idup gak jelas. Udah lah gue balik aja.”wanita itu bergegas menyambar tasnya dikursi sofa dan menghilang ditelan pintu. “gue suka puisi ini karena loe pernah matahin puisi ini Arya” disentuhnya pelan kepala Arya.

Entah apa yang dia lakukan di hujan gerimis buan Juni ini, aku selalu terheran-heran hingga ku abadikan posenya yang membiarkan hujan mebasahi busana hitam paska pemakaman Arya dengan LSR ku. Kejadian itu ku ceritakan pada pak Sapardi sebelum aku berangkat memenuhi undangan kerja di Australia. Tak beberapa lama kemudian sebuah email masuk berisikan puisi karya terbaru bapak, Huja Bulan Juni. 

Jumat, 14 September 2012

SEGARIS INGATAN

waktu umurku masih bisa dhitung oleh jari tangan, umi menghadiahiku untuk pertama kalinya sebuah buku, buku yang menjadi sebuah awal kegemaranku sampai detik ini, komik. masih terngiang di benakku, waktu itu aku dititipkan dirumah tante ku karena umi pergi belanja. dirumah hanya ada nenekku yang amat bawel sangat sekali :D. Saya kira sampai sekarang belum ada lawan yang sepadan baginya dalam urusan bercerita dan menceramahi anak cucunya, nenekku satu-satunya. kembali pada ceritaku ya, sepulang umi berbelanja aku yang paling kecil saat itu memiliki rasa ingin tahu yang begitu besar(ngratil). kubongkar muatan belanja umi sampai kedasarnya, dan ku temukan komik. bukannya diberikan padaku umi malah terlihat malu karena sebenarnya buku itu akan dijadikan hadiah pada ulangtahunku besok. dan aku mencoba bersabar menunggu hari itu. begitu aku mendapatkannya serta membaca selembar demi selembar, tau apa yang menunggu di akhir cerita? BERSAMBUNG!
omg.... gak yahud bgt deh.... penasaranku bersambung juga.hemh.

berikut beberapa koleksiku :
 





Batu Tak Bertuah












 Sembilan titik sembilan bersama bulan

   Kembali kusadari ku berjalan dikejadian yang sama

       Ditempat kau menemukanku
          Dijalan setapak penuh kerikil dan debu itu


            Semua serasa merdu

               Pernah ku kau sebut kerikil tak bertuah
            Kerikil yang kau asah lalu jadi berlian
        Namun kau jual pada pengepul
     Lalu kau berpaling dan mengambil kerikil lain
  Tak pernah kau pandang apa yang ada didalam diri ini
Kau bersanding dengan kerakusanmu
 Melupakan usahaku menahan rasa yang tak pernah bisa kau pahami
    Karena aku batu.
       Sunyi dan sunyi lagi aku tak mau bergulat lagi


          Hanya susah yang kau beri

      Lalu waktu pun terhenti.

Kamis, 03 Mei 2012

JANJI MALAIKATKU

Ibu kau begitu mengerti apa yang aku butuhkan, apa yang aku inginkan dan apa yang terbaik untuku. Setiap gerakanmu serat akan tulus kasih dan sayang.
Dulu  di sebuah tempat yang indah aku bertanya pada malaikat,”disini begitu indah dan nyaman kenapa aku harus dipindahkan kesebuah tempat yang penuh dengan kotoran? Apakah aku bersalah pada NYA?” malaikat menatapku dengan lembut, dia tidak menampakan sedikitpun rasa kecewa dengan pertanyaanku yang jelas merujuk pada ketidak terimaan pada takdir. Dia menciptakan selukis senyum indah penenang hatiku yang gundah akan kenyataan yang akan aku terima, lahir kedunia. “disana kau akan bertemu makhluk yang melebihi ketulusanku, aku hanya menerima perintahNya. Sedang makhluk itu dengan senaghati merawatmu.” ”berjanjilah padaku wahai malaikat apabila aku tak bertemu dengan makhluk itu bawa aku kembali tinggal diistana Firdaus ini.” Malaikat menganguk. Dengan lembut ia menuntunku menuju sebuah gerbang tinggi sampai tak terlihat ujungnya. Tempat indah itu lama kelamaan mengecil dan menghilang. Dalam sekejap aku ada di dekapan seorang wanita beraroma obat – obatan. Aku bersedih aku seperti kehilangan sesuatu, kini udara yang kuhirup tak sesegar tempat itu. Panas dan baunya tak seharum yang biasa aku datangi. Aku kecewa sekarang aku menagih janji  malaikat bertubuh tegap itu. Hatiku berteriak memangilnya. Dia tak juga menampakan wujudnya. Aku mencoba mengatakan ketidak sukaanku tapi yang keluar adalah butiran – butiran air dengan rasa asin. Semua mengerubungiku, menyelimutiku dengan beberapa lembar kain, lalu aku tertidur. Tak lama aku menginap dalam ruangan penuh bayi . Lalu seorang lelaki membawaku keluar dari daerah berbau obat.
Sembilan tahun kemudian, aku telah cukup pintar untuk menghadapi para pembeli jajanan yang aku jajakan didaerh terminal pulogadung. Aku berjalan dibawah terik matahari setelah pulang sekolah. Setiap hari daganganku laku. Kalau ada sisa ayah pasti memukulku dengan sapu. Jumlah pukulannya bergantung pada jumlah sisa makanan. Jadi aku harus ekstra berusaha menjual danganku.  Rambutku panjang sepantat warnanya kemerah – merahan, rusak karena tak terrawat.
Disekolah aku bukanlah anak yang bodoh, aku suka bertnaya dan bergaul dengan teman – teman. Beberapa anak sangat suka berada didekatku. Irvan dan Halimah, dua teman karibku. Kami selalu bersalip – salipan juara. Irvan yang cerewet dan Halimah yang pendiam. Kadang aku merasa mereka itu tak membutuhkanku untuk bisa bersama. Mereka adalah sahabat kecil. Aku selalu memilih diam memandang pertengkaran kecil mererka. Memandang mereka seperti sebuah cerita indah dimasa kanak – kanak kami. Masalahnya hanya sepele Irvan yang sering bolos piket, Halimah sicuek tapi perhatian pada Irvan. Terlitas dibenakku mungkin suatu saat mereka akan bertemu dalam ikatan lain, teman hidup. Sepulang dari sekolah aku tak langsung menuju pangkalan kerja. Aku berkunjung kerumah Irvan bersama kedua sahabatku. Irvan dan Halimah bertetanggaan. Halimah selalu main kerumah Irvan karena kedua orang tua Halimah sibuk kerja. Orang tua Irvan cuma penjual Gado-gado. Ibunya baik sekali padaku, dia selalu membuatkan gado – gado special pada kami bertiga. Dia tak pernah pilih kasih pada kami. Semua ia sayang, ialah sosok ibu yang mungkin selama ini aku cari. Sedangkan tentang Halimah, ia anak pemilik salah satu hotel berbintang di Jakarta. Tidak cuman itu ibu Halimah juga memiliki toko emas di sebuah pasar. Tidak heran mukanya cantik , badannya berisi, dan otaknya encer. Wajar kadang aku merasa iri padanya. Kami bertolak belakang. Tapi aku tak mau mengasihani diri ini. Aku masi yakin aku hidup didunia ini pasti ada tujuannya.
Dirumah kardus  beratapkan seng  aku terduduk menghadap sebuah buku LKS agama.Pelajaran agama sering membuatku bertanya – tanya. Disana tertulis semua yang tak pernah kudapatkan, kasih sayang orang tua. Hobiku adalah menulis pertanyaan – pertanyaan yang akan aku ajukan pada guru, maka LKS itu kucoret – coret. “kenapa ayah tak pernah memberi aku uang jajan? Padahal ia tampan dan sehat bugar””lalu kenapa ada surga kalau banyak orang memilih berjudi dan membuat maksiat? Bukankah neraka itu akan sangat penuh? Cukupkah tempat itu?””berapa jauh surga dari dunia dan berapa tiket masuknya?” kemudian mataku gelap. Dalam mimpiku aku bertemu malaikat yang harum itu. Kami tak bercakap – cakap. Kami hanya saling menatap, lalu dia tersenyum seindah senyum mentari pagi. Dan aku terbangun.
 Siang itu aku bertemu ayah setelah beranjak pergi dari rumah Irvan. Mata ayah merah, penampilannya lebih lecek dari pada biasanya. Dia berjalan sempoyongan menuju gerbang rumah Irvan, tempatku berdiri. “hoy anak setan! Kemane aje loe, gue cariin loe. Heh, loe gapain ngemis – ngemis dirumah orang gini? Mana uang gue? Sini mana!” dengan gerakan tegas ayah menarik rambutku kuat. Hingga seperti akan copot dari akarnya. Dan benar sebagian rambutku berada ditangan lengketnya bekas minuman keras. Aku memekik kesakitan, “aw ayah sakit...." ayah seperti tak peduli, ia seret aku hingga halaman rumah kardus. Lalu melepaskan jambakannya itu. Sesaat aku menatapnya heran karena ia berlalu lalang masuk- keluar rumah. Akhirnya ia menatapku tajam memegang sebuah gunting hendak memotong rambutku. Aku hanya bisa menagis dan berteriak memohon ampun. Dan seperti biasa ia tak peduli. Setengah jam kemudian rambutku terpangkas habis. Aku seperti seorang biksu wanita.
 Dua hari aku tidur dihalaman tanpa makan sedikitpun. Badanku lemas, penampilanku sudah jauh dari sehat. Suhu badanku menyatakan aku demam tinggi. Aku terduduk disudut depan rumah yang basah karena rembesan embun pagi. Aku tak bisa bicara lagi demam ini membuat sebuah halusinasi. Seorang makhluk yang dulu sempat dijanjikan malaikat datang padaku. Dia mendekapku erat hingga aku tak bisa bernafas. Seketika setelah ia melepas pelukan hangatnya aku telah mencium harum istana firdaus. Aku bertanya padanya,”apakah kau ibuku?” dia seperti malaikat tanpa nama itu. Senyumnya secantik rona wajahnya. Kami berjalan menyusuri tangga berkilau. Karena begitu banyak anak tangganya wanita itu menawariku untuk ia gendong.
Didalam rumah kardus berukuran  2 x 3 ayah terbangun dari pingsannya setelah menenggak lima botol minuman keras dan sebungkus pil. Karena lapar ia keluar mencari anak malang itu. Begitu ia sadar  anaknya telah tiada ia hanya terpaku memandang seongok daging tanpa nyawa. Seketika semua sendinya melemas. Sepintas ia melihat sebuah buku LKS yang penuh dengan catatan aneh, ia mencoba membacanya. Lalu Ia menengadah memandang langit, dan untuk pertama kalinya segaris air mata tumpah menyusuri pipinya.
Kami cukup lama untuk menyusuri tangga panjang bersinar aneh itu. Hingga diujung sana aku melihat sesosok peria tegap ber baju putih dengan sayapnya. Akupun turun dari gendongan wanita itu dan berlari menghampiri malaikat tanpa nama. Aku memeluknya erat. “jangan kemana – mana lagi! aku mohon. Aku akan jadi anak baik.” Dia tersenyum lagi, lalu mengandengku dan berkata,”baiklah mari kita kembali ke istana.” Malaikat menepati janjinya.