Sabtu, 18 Oktober 2014

SAJAK TERIMAKASIH

Trimakasih telah memalingkan wajahmu
karena setiap aku mengingatnya
aku belajar akan selalu peduli pada siapapun
karena sakit sekali tidak dipedulikan
Terima kasih telah meninggalkanku
Karena, setiap kali aku mengenangnya
Aku belajar akan selalu setia
Karena sakit sekali telah ditinggalkan

Terima kasih telah menolakku
Karena, tentu saja itu hak setiap orang, menerima atau menolak
Tapi aku belajar akan selalu berusaha memahami
Meski sekeras apapun aku ingin menolak orang lain

Terima kasih telah menghinaku
Karena, setiap masa hinaan itu terngiang
Aku belajar akan selalu menghargai dan menghormati
Karena demikianlah sifat mulia manusia

Terima kasih telah menuduhku
Karena, tuduhan yang palsu hanya akan menguatkanku
Juga tuduhan yang benar membuatku memperbaiki diri
Tiada rugi mendengarkan tuduhan itu

Terima kasih telah melupakanku
Karena, semakin dilupakan, sesuatu akan semakin diingat
Aku tidak akan menghabiskan waktu dalam kesedihan
Apalagi balas turut melupakan

Terakhir,
Terima kasih telah menyakitiku
Karena, rasa sakit akan membuatku lebih kuat
Bersabar atas setiap detik sakit tersebut
Untuk besok lusa, menjadi kebal atas racun yang sama
*Tere Liye

Kamis, 14 Agustus 2014

hy ndul

sebuah nama pada awalnya hanya serentetan kata yang mengandug doa hingga suatu hari bisa dijadikan sebuah pedoman menuju pemiliknya, atau bahkan menjadi bagian dari sejarah penting umat manusia.

hay ndul 

ketika aku merindukanmu apakah kau merindukanku?
ketika semua mulai melupakanku pakaah kau kan terus mengingatku?
semua tanya terpaku tepat didinding-dinding kepalaku
kertas usang kembali mengalunkan melodi kelasiknya
mereka menyeretku ketika awal kita berjumpa

jalanan sempit berbatu 
bau tanah saat hujan
suara riuh dikelas
papan tulis yang berdebu
guru yang galak-galak

hay ndul...
sejujurnya aku masih ingat suara tawamu
gurat senyum dibibirmu
suara merajuk serta marahmu
tapi apa daya kau selalu kembali terseyum ketika waktu mempertemukan kita pada satu ruang
satu takdir yang membuatku merasa beruntung berjumpa denganmu
aku merindukanmu, ndul.
semoga kau tentram dalam pelukanNya

Sabtu, 07 Juni 2014

cintabencicintabencicintabencicintabenci
       benci
cintabencicintabencicintabencicintabenci
       benci
cintabencicintabencicintabencicintabenci
       

ATAU KAH



aku telah biasa tampa mu namun ku tau kau telah menunggu ku kembali dalam dekap kasihmu. 
sungguh aku juga demikian.
aku juga merindukanmu bahkan aku terus menutupi kuat rindu dalam batin ini agar suatu ketika aku bisa kembali menikmati indah bersamamu.
tetaplah seperti ini tanpa batas waktu
karena aku menginignkanmu tanpa perubahan, karena aku memang sudah menyukaimu
benar benar kamu

aku tak akan merubahmu menjadi seorang pangeran, seperti dalam mimpi ku hanya saja biarkan ku menjadi satu satunya

hanya aku dan kamu  
bisakah?
atau biarkan ku melupakanmu 
merelakanmu 
memilih kembali jalan hidupku

kembali tak mengenalmu seperti awal kita bertemu.
dan berkata, kau bukan jalan hidupku.

KAU SIAPA

satu demi satu waktu bergulir mengiringi langkah dan gerak jantung
jantung yang pernah berdetak karena mu
hati yang pernah kau diami  

satu demi satu rangkaian kata melebur dan terputus-putus
lama makin lama
sebuah tanya tergurat dibatin serta akal
kau siapa?






Minggu, 26 Januari 2014

untuk Endah

baru kurasa pertumbuhan ini menyamai bentuk seorang dewasa
bahkan aku tak tau sejak kapan ini di mulai
dan kemudian q mulai  meninggalkan bentuk yang pernah aku miliki untuk bertemu denganmu
ndul, kau akan terus dengan wujud itu
menyaksikan aku dari atas sana.
kau yang sedang dalam masa indah mu
kan terus indah dihati dan ingatan ku.
indah
indah indah indah
selamanya kau kan jadi indah saudara ku


Minggu, 21 Juli 2013

Aku Tak Membenci Hujan



Seminggu sudah ku bertarung melawan ketidak benaran dalam sekian banyak artikel, dan segala hal tentang karya cipta orang bule. Cleo sudah sangat ribut akhir bulan ini. Ruang berukuran 7x6 dengan sebuah meja jati kuno dan rak-rak buku adalah hiudupku sekarang. Ku dekati jendela tanpa tuas yang pemandangannya cukup jujur dari lantai 19. Hanya terdengar halus suara AC yang sedari tadi setia menemani ku bersama jutaan kata dalam layar komputer.  Abu-abu langit diatas kepalaku, awan menangis menumpahkan air segar yang menitik, membasahi tanah lapang diantara pepohonan pinus. Bau tanah bercampur air hujan adalah aroma kesukaannya. Wanitaku di tanah air beta.
Bulan juni lima tahun lalu kumengenalnya, namanya juwita. Seorang wanita sederhana yang kadang terlihat seadanya bukan apa adanya. Dia bukan wanita cantik pada umumnya, dia cenderung unik. Jangan pernah menyingung tentang berat badan, karena berat badanya tak dapat diprediksi. Pernah suatu hari kusindir begitu gemuk namun dengan santai dia berkata,”jangan kau lihat aku dari penampilan sayang.”dan hari berikutnya pendapat ku dipatahkannya hanya karena pakiannya. “lo kurusan”mataku tak percaya saat itu. Ternyata benar kata mereka, penampilan bisa menipu. “ckckck, kan dah gue bilang kemaren.”senyumnya mengembang nakal. Kuakui aku selalu kalah darinya. Entah sejak kapan itu terjadi, tetapi persahabatan kami ini rasanya akan sangat lama. Walau kini aku berharap dia akan segera melepas masa lajangnya dan tentu melihatku sebagai seorang yang selalu ada untuknya.
Aku berlari menyusuri lorong untuk menyerahkan sebendel materi kuliah, dari kejauhan terlihat wujud mungilnya dipojok persimpangn jalan, dan aku terhenti. Senyumku masih terkembang sebelum suaraku tertahan melihatnya berpelukan dengan seorang pria berkacamata mukanya mirip adi MS. Detik itu juga kusimpulkan sebuah kenyataan bahwa harapan tinggal harapan. Hampir setahun berlalu, mereka masih begitu dekat. Jujur aku sangat cemburu, untuk itu aku memilih menjauh dari mereka. Mulailah kutekuni hobiku untuk menjauhkan rasa sepi dihati paska ketidak hadirannya. Aku memilih masuk jurnalistik kampus, ku beli sebuah kamera SLR dari hasil ku berekerja menjadi seorang penulis lepas disebuah majalah remaja. Nama penaku adalah azna(cemerlang). Dari jalan yang kutempuh ini ku mengenal seorang yang cukup menginspirasi, pak sapardi. Dia sering menjadi tempatku berkeluh kesah baik mengenai masalah kampus dan kadang masalah hati. Dia seorang yang bijak dimataku. Mungkin dia adalah sesosok ayah di kota metropolis ini, kadang anak rantau seperti aku ini agak melo kurasa. Sedikit putus cinta, nangisnya lama, kaya gerbong kereta. Bapak selalu mengajariku tulus dan bersabar dalam menghadapi segala kejadian yang datang pada hidup. “Karena hidup manusia akan selalu baru setiap harinya dan waktu tak akan segan berlari meninggalkan manusia yang berhenti berjuang.” Lalu dia goreskan tinta birunya diselembar amplop usang. Sebuah sajak lepas yang segar telah lahir dari kisah perihku, judulnya aku ingin. Aku takkan pernah melupakan tetuah bapak. Mulai kurelakan Juwita pergi, aku mencari pelarian menjadi aktifis kampus. Seketika satu fakultas menjadi mengenalku tepat semester lima kumulai menjadi ketua Persatuan Jurnal Kamps(PJK). Sedangkan kisah cintaku menggantung dilangit-langit blog pribadiku dalam kacamataku. Ini blog berisi semua perasaanku pada Juwita, namanya selalu kusebut dalam karanganku, orang dungu pun akan tahu itu dia.
Awal semester tujuh kudengar mereka putus, Juwita dan lelaki itu. Pantas kemarin kulihat dia bersama sahabat-sahabat wanitanya tanpa ada kehadiran si buntut. Seusai mengikuti perkuliahan aku lantas disibukkan dengan urusan hobi. Saat aku hendak menyerahkan proposal kegiatan pada pengurus BEM tak sengaja ku berpapasan dengannya, wanita pujaanku. “hi ziz, lo lama gak keliatan abis pindah kelas.”lantas dia menarikku duduk dibangku yang letaknya dekat dengan tangga lantai satu. “ya gitu deh sibuk kegiatan jurnalis.”matanya mengembang, aroma mawar jelas ku bau. “wit aku lagi sibuk bisa aku pamit duluan?”tanganku mendadak tegang dipegang kuat olehnya. “gwe putus dari arya ziz, gwe…. Sayang banget sama dia”suara getir tertangkap telingaku, kupandang focus kearah suaranya. “gwe bole pinjem pundak lo gak?”satu persatu air matanya meleleh cepat, begitu dekat rasanya ingin kudekap dan ku bawa kesurga bidadari cantik ini. “det det det” handphone q bergetar keras mengagetkannya.”maaf wit aku beneran harus pergi sekarang.” Kuhapus jejak perih di pipi hausnya. “udah ya, aku tau kamu itu cewe terkuat yang pernah aku kenal.” Dia cubit lengan kurusku,”aw”begitu aku tertunduk merintih dia bangkit berdiri,”makasih ya udah nemenin aku, thanks”dia berlalau. Sarafku mengendur, sepertinya energi ku hilang sepauh bersamanya,bersama punggung indah yang semakin mengecil dari pandanga.
 Kami tak bisa lagi dekat seperti dulu, selain kelas, waktu kuliah, dan hobi yang berbeda jelas sudah tercipta geb diantara kita. Dinding tembus pandang yang kami ciptakan dalam kebisuan. Aku sudah biasa membisu sebelum berkenalan dengannya, maka semua itu mudah ketimbang dia yang banyak bicara. Bersamaan dengan terpilihnya aku menjadi ketua PJK, Juwita menempati wakil ketua BEM fakultas sastra, dan aku tersenyum melihat kehebatannya. Beranjak dari kebanggaanku tadi tiba-tiba hati ini teriris ketika melihat kenyataan bahwa belahan jiwaku harus menangis merelakan kepergian lelaki itu. Aku berjalan membayangkan tangisnya ruah keluar dari pelupuk mata coklatnya. Jalanku terhenti, dadaku sesak, aku berlari melewati lorong mencari tempat sepi. Aku memilih memacu kendaraanku melepas kesal berlapis kesedihan ini. Kenapa bukan aku? kenapa harus segitu dalam dia mencintai peria itu? Kenapa dengan pria tak setia itu? Kenapa tak ungkapkan saja perasaan ini sebelum mereka bertemu?
“Tok tok tok tok tok” suara ketukan cepat dan keras membentur-bentur pintu kosku. “ziz si arya D3 Jepang kecelakaan  abis semalem pesta kelulusan ” situasi ini terbaca lambat oleh kondisi setengah sadarku, “iya deh gwe ke WC dlu.”jalanku sempoyongan. “cepet ya!”saut yono sambil berlalu.

Dalam kamar VIP ruang flamboyan terbaring seorang pria koma yang kemarin baru saja memutus hubungan dengan sesosok wanita didekatnya. Apakah ini karma? Atau ujian baginya? Juwita masih menitikkan airmata disudut gelap matanya. Mengegam erat telapak tangan Arya yangterkulai lemas hanya infus dan selang oksigen yang  membantunya hidup. Apa yang aku takutkan terjadi, Juwita memiih tetap tinggal dan menjaganya.
Entah sampai kapan Juwita kan jadi satpam? Malahan selingkuhannya tak pernah sekalipun menampakan batang hidungnya, pengecut! “dasar loe, nyadar gak wit cowo yang loe pelihara ni punya simpenan. napa loe masi setia gini si? Udah semester delapan kita ini wit.”una nerocos dibelakang punggung Juwita yang sedang mengusap tangan Arya dengan kain basah. “gak papa gue juga udah nyusun proposal koq.” Mencoba menenangkan una dengan segaris senyum letih. “udah lah wit, dia itu udah gak pantes loe perjuangin. Pliss tolong ngerti.” Kini tatapan mereka lekat degan posisi una terejongkok dibawah, dan Juwita memegang pundah una,”gue gak akan bilang cinta kalau gue gak bisa tau maknanya. Gue gak mau jadi pembual

Kau bilang suka hujan, tapi kau memakai payung, saat berjalan dibawahnya

Kau bilang suka matahari, tapi kau malah berteduh, saat matahari bersinar

Kau bilang suka angin, tapi saat angin menghampirimu, kau malah menutup jendela

Dan saat itulah aku takut, saat kau bilang suka padaku,


“puisi itu lagi kenapa sih loe suka bgt ama puisi si gembel entu? Dia aja punya idup gak jelas. Udah lah gue balik aja.”wanita itu bergegas menyambar tasnya dikursi sofa dan menghilang ditelan pintu. “gue suka puisi ini karena loe pernah matahin puisi ini Arya” disentuhnya pelan kepala Arya.

Entah apa yang dia lakukan di hujan gerimis buan Juni ini, aku selalu terheran-heran hingga ku abadikan posenya yang membiarkan hujan mebasahi busana hitam paska pemakaman Arya dengan LSR ku. Kejadian itu ku ceritakan pada pak Sapardi sebelum aku berangkat memenuhi undangan kerja di Australia. Tak beberapa lama kemudian sebuah email masuk berisikan puisi karya terbaru bapak, Huja Bulan Juni.