Selasa, 06 Maret 2012

Terhentinya Jejak Si Play Boy

Aku berlari dari SMPN 9 Magelang ke rumah hanya karena diputus oleh pacar pertamaku, Riana anak seorang preman, hanya karena aku menghina perbuatan tercela ayahnya. Lalu ku bertemu ayah didekat pagar rumah. Kata ayah, “pacarilah wanita sebanyak – banyaknya tapi nikahilah satu wanita yang paling kamu butuhkan untuk mengisi hidupmu.”dalam hati aku hanya tertawa mendengar perkataan itu, perkataan seorang yang memiliki seorang istri. Walau begitu perkataannya adalah sebuah pedoman bagi ku yang seorang penggelana cinta ini. Hira , Susi, Amelia, Ratri,bla bla bla dan yang sekarang Rina. Wanita kalem dengan segudang ilmu dan kejeniusannya telah mengelitik hatiku. Pesona seorang kutu buku,sebenarnya aku tak ada cinta dengannya hanya saja aku membutuhkannya sebagai seorang guru bagi ku yang memiliki nilai setandar ini. Dia memiliki kulit putih, bibir mungil, rambut panjang hitam terikat, dan selalu mengenakan pakaian rapi khas seorang kutu buku. Niatku hanya menjalani hubungan ini sebatas satu semester. Ya wanitaku selalu seumur jagung. Ini semua berdasar rumus yang dari dulu telah ku pegang. Namun bukannya aku ingin menjahati mereka, kami berhubungan dengan sewajarnya, tak ada kontak  fisik yang berarti. Sikapku tak pernah kurang ajar kepada setiap wanita yang pernah kukencani. Aku pun selalu menembak berdasarkan rasa suka mereka terhadapku yang menurut kaum hawa cukup keren ini. Yah, apa mau dikata aku memang memiliki pesona seorang lelaki keren, aku pemain inti tim basket, bermotor CBR, kantong ketel bertampang indo cina, kata mereka aku cowok baik “beh, kurang apa coba?”ditambah lagi buktinya bahwa aku baik ialah, semua mantanku selalu menangis kalau aku putus, bahkan minta balikan. Ukuran ku terhadap seorang wanita memang awalnya adalah cantik dan seksi, umum memang kalau dipikir, namun itu dulu. Sekarang wanita dimataku dilihat dari kualitas mempertahankan perasaan cintaku kepadanya. Aku tak butuh gombalan, rayuan muarahan atau kematrean mereka. Ya aku tau lelaki tempatnya memberi nafkah, tapi bukan sapi perah kan? Boleh lah minta beli baju, sepatu, dan perhiasan sebulan sekali, tapi kalau setiap hari, emang mau buat toko apa?
Lorong fakultas Arsitektur UNDIP sempit ,serta berkesan kumuh. Setiap hari ku harus melewati jalan yang sama, karena setiap ku melewati jalan yang berbeda wanita baru mengoda mataku. Jujur  aku selalu coba setia. Ya, aku lelaki setia, ku memang tak pernah bertahan lama denagan pacarku tapi aku tak pernah menduakan mereka. Sudah 15 tahun sejak pertama kali ku mengenal wanita dan sudah lebih dari lima puluh wanita beruntung menjadi mantanku. Wanita pertamaku anak seorang berandalan itu entah bagaimana kabarnya, dialah penyebab semua ini. Aku sangat berterimakasih kepadanya dengan perbuatannya kini aku bisa menjadi lelaki yang benar – benar bebas dari kata bosan. Dengan mudah bidadari datang menjadi pendamping hidupku, ketika rasa sudah hilang bidadari berikutnya datang menemaniku mengantikan yang terdahulu. “hahahaha,”sesaat tawaku mengagetkan penghuni lorong kampusku itu. Ah, pasti mereka merasa aku orang yang aneh, biarlah peduli apa aku dengan pikiran mereka. Ku berjalan santai melirik kanan – kiri, mencari Rina. Walau kaya serta tampan, aku jarang memiliki teman pria karena sikapku yang kaku, atau mungkin karena mereka iri dengan semua yang aku punya. “eko!”suara seorang wanita berkulit putih dari arah gerbang. Senyumnya mengembang indah dipandang serta terasa sejuk didalam hati. Rina ku telah dihadapanku, ku gandeng tangannya menyusuri lorong kelas – kelas. Tak sedikit kaum hawa memicingkan mata mereka hendak membunuhnya. “ko, kita bisa lewat perpustakaan aja kan?” mukanya memerah. Namun ku berkeras,”kejauhan na, ini jalan pintas biar kita gak telat.”tangannya sejenak seperi menolak keinginanku, namun tetap takku hiraukan. Akulah yang memiliki kuasa. Sedikit berlari kecil, pikirnku terbebani oleh sebuah tugas belum terselesaikan. Tepat didepan kelas gengamanku terlepas, kuambil ponselku lalu menekan beberapa nomor hendak menelepon komting yang tak lain adalah sahabatku sejak SMA. Dengan lugas dia jawab semua pertanyaanku, lalu sedikit berdalih dan kututup teleponku. Sebuah  senyum yang ku tujukan pada wanita beruntung disebelahku. Senyumnya ikut merekah namaun entah apa yang ia pikirkan tentangku dan aku tak pernah peduli. Aku membuka pembiicaraan tentenang sebuah tugas. Dengan sigap wanita berumur 20 tahun itu mengelluarkan dua lembar kertas foliodan hvs berisi penuh dengan teori dan sketsa. Senangnya hatiku dia benar- benar cepat tanggap, namun untuk sedikit menaikkan gengsiku,”lah rina?apa ini? Akukan cuman minta cetak birunya aja biar teorinya kau sendiri yang cari jadi kamu semua yang ngerjainkan?”berkelit.”udah kelamaan ntarnya eko malah gak bisa on time kumpulin tugasnya, lagian ini kan sekalian cari tugas punyaku yang gak jauh beda.”jawabnya lugu. Kami memang tak satu kelas, kami satu jurusan berbeda kelas. “terimakasih ya sayang”,ku kecup keningnya. Kulakukan ini sebagai upah kerjanya, jahat sungguh tak menyangka kubegini. Dipipi putihnya jelas bersemu sebuah warna merah muda. Sebelum suasana aneh datang aku masuk kekelas dan mengumpulkan tugas sketsa artistikku. Hari ini tugas berhasil sempurna. Siang yang mendung berarak awan putih bercampur kelabu. Kuberjalan santai menyusuri lorong – lorong kampus yang lumayan lengang diakhir minggu. Kebiasaan kampus sepi karena hari jumat adalah hari bagi para pemudik. Sedang aku?selalu mengingat peristiwa ini. Pristiwa dimana saking seringnya diri ini pulang ibuku berdiri tepat didepan ku duduk menonton tv. Dengan berkacapingang beliau berkata,”bola-bali bosen aku deleng koe, iso ra gawe aku kangen? Wis dikei motor, kos apik, sangu akih. Opo meneh....jaluk opo meneh cah lanang?”logat jogja. “hihihi, aku gak buat ibu kangen toh? Terus maunya gimana bu?” ”maunya kamu di Semarang  aja cari kerjaan, cari mantu sing solehah, nek iso cepet lulus! Biar nerusin usaha cetak bapakmu.” Ketawaku pecah,”hahhahahhahhaha”lalu pembicaraan terpotong begitu saja karena masakan ibu gosong.
Yah inilah malam paling kelabu yang sering aku rasakan ketika aku memiliki seorang pacar namun tak pernah sekalipun aku merasa memilikinya, malam minggu. Sebuah lagu milik Eminem terdengar cukup lantang dalam kamar kosku. Minggu ini memang sengaja aku tak mudik, aku pulang tiga minggu sekali. Telepon selulerku berbunyi dari balik bantal biru tuaku. “halo, Gimana rina? Mau jalan kemana?”pertanyaan setandar yang selalu kulontarkan.”kemana aja yang asalkan sayang ada disampingku”jawaban yang menyenangkan namun menjebak karena sesungguhnya wanita ingin dimengerti. Ini merupakan tes kepekaan dan tes kreativitas otak. Harus mengidentifikasi hobi, kesukaan, kebiasaan, dan mood. Kalau keadaannya demikian biasanya dia meinta diajak kelestoran untuk makan karena ini masih cukup sore untuk dibilang malem. “makan yuk?”dari seberang telefon dengan jelas ajakanku meriangkan hati wanita itu. Nilai tes seratus.
Lestoran sederhana dengan pemandanagan yang mengesankan, itu kesukaanku. Dari semua penjuru mata angin aku dapat menghirup udara bebas karena bentuknya yang menyamai pafiliun raksasa. Pesanan telah diantarkan, aku biarkan rina menikmati hidangan yang ia pilih sendiri. Dia tidak suka kopi, dia suka susu coklat dan makanan gurih. Selera makan kami sama cuman aku suka kapucino. Yah baru terasa menyenangkan ketika diposisi ini serta dalam suasana begini. Atau mungkin aku sudah mulai terbiasa dengan keadaan ini?bersamanya? terserah saja aku tak pernah memaksakan kehendakku sampai detik ini. Biarkan cinta datang seperti sebuah hadiah terindah. Lestoran semakin penuh pengunjung setelah berjam - jam kami berada disana. “sayang, selamat ulang tahun ya? Nih kado kecil dari aku.”perkataan yang mengejutkan.”aku ulang tahun? Loh dari mana rumus itu? Aku kan ulang tahun tanggal19 ju...”lalu ingatanku kembali bahwa memang hari ini aku ulang tahun.”ah sayang makasih ngingetin aku, biasanya gak ada yang sadar.” ”jadi aku yang pertama?” “ya jelas kan sekarang jam berapa? Udah ayo pulang, wanita gak baek pulang pagi – pagi.”sadar kah kalian perkataanku kelise?”iya sayang tapi kita tunggu dulu kue tart yang uda aku pesen”haduh, dasar cewe. Memang ulang tahun bukan ulang tahun tanpa kue tart? Dari mana sih itu sejarah rasanya ingin ku bunuh pembuat kue tart aneh itu. Pencetus per ekonomian penguras kantong. “masi lama gak?” “tidak sayangku itu uda diarak”menunjuk peramuria yang cukup seksi datang kemeja kami. Didepan kue yang telah terwujud lezat bertabur coklat dan beberapa lilin aku melihat ketulusan dimata wanita cupu itu. Semoga ini hanya perasaan kagum. Memang hari ini dia nampak lebih modis, lebih bisa aku hargai sebagai seorang wanita. Dia memang tau cara menjadi seorang wanita. Terbersit di pikiranku mungkin dia memang kekasihku. Kutiup lilin berbentuk angka dua puluh itu. Berikutnya tepukan tangan riang kekasihku yang beraksi. Tepat pukul satu kami sudah sampai dikos Rina, didepan gerbang entah darimana perasaan itu aku bergerak reflek memeluknya dan mengecup keningnya. Sungguh sepatah katapun aku tak bisa berkata – kata karena terlalu berterimakasih pada malam ini.
Bangunku kesiangan, jam dinding menunjukan pukul sebelas. Kuraih telepon gengamku lima sms telah aku terima. Lima sms duka, ayah Rina meninggal semalam. Hari ini ia pulang kerumahnya dijogja. Malam hari seorang wanita teman sekelas Rina datang kekos. Wiwit wanita bertubuh gemuk berkulit coklat tua. Dari bahasanya aku tau dia satu daerah denagan Rina. Dia banyak bicara sedang aku kebanyakan diam mendengarkan. Dari diam kita jadi lebih banyak tau, begitupun sebaliknya dengan banyak bicara kita jadi lebih banyak diketahui. Klise lagi. kembali pada keadaan aneh wanita gemuk yang tiba – tiba datang menghampiriku. Wiwit memberi tahuku bahwa Rina sungguh mencintaiku, dari sisi ini mungkin agak mengejutkan karena seringnya ku yang merepotinya. Namun apa daya wanita yang terkena pesonaku. Sombong sedikit bolehlah. Tapi pernyataanya yang berikutnya membuatku sangat tertohok. Dia mengatakan bahwa cintanya sudah ia miliki sejak masa SMP. Pertanyaanku kemudian muncul bertubi – tubi namun dengan cepat dan lugas wanita gendut itu menjawab setiap pertanyaan ku. Hanya satu yang tak dapat ia jawab hingga pertemuan kita berakhir. Apa pekerjaan ayah Rina?
Seminggu sudah kami tak berjumpa. Entah bagaimana kabar dan kesibukannya. Yang jelas nomer teleponnya sampai sekarang tak dapat dihubungi. Kami menggantung, itu pikiranku. Jelek memang, namun aku baru pertama kali merasakan hal seperti ini. Ketika semua dengan mudah aku putuskan, dia dengan mudahnya mengacuhkan aku yang masih berstatus pacarnya. Sungguh balasan yang tiba – tiba datang. Anehnya lagi tak sedikitpun rasa ingin ku memutusknnya atau menduakan hubungan mengantung ini. Padahal dengan mudah aku bisa mendapatkan wanita lain. Mungkin masalahnya aku sudah terbiasa dengannya, atau memang tak ada yang menyamai perasaan aneh ini yang ku dapat darinya.
Dua minggu, ini cukup untuk sebuah kesabaran. Usaha menelepon sudah, mendatangi kosnya, menanyai wanita gendut itu, hingga mencari informasi alamatnya. Hari jumat ku kebut kendaraanku menuju jogja. Jogja kota seni hari ini dan hari biasa tak ada tidur bagi kebudayaan disana. Nuansa kental akan etnis dan budaya. Walau begitu menara suar masjid masih terdengar disela – sela kesibukan mereka. Tak diragukan lagi betapa nyamanya hidup disana. Orang – orangnya ramah sera bersahaja. Sayang aku tak memiliki peta jogja dan bahayanya aku buta arah. Beberapa kali aku memutari sebuah wilayah. Malu bertanya sesat dijalan terbisik dibatinku. Lalu mulutpun memberanikan untuk bertanya, alhasil alamat tujun pun ditemukan. Sebuah gang ditengah – tengah Malioboro. Ibunya mengelola sebuah rumah makan sederhana dalam gang sempit di tengah Malioboro. Mengesankan, warung itu tetap penuh pengunjung. Dan sekelebat wujud wanita yang ku cari hadir didepan mata.”Rina!”teriakku. Dia menoleh, sejenak menatap heran dan kemudian menghampiriku dengan tangan penuh cucian piring. Sungguh indah segaris senyum tulus yang ia lontarkan padaku. Sedetik tadi seperti aku melihat seorang bidadari pencuci piring, ku tersenyum membalasnya. Kami mengobati kerinduan satu sama lain. Mungkinkah ini yang namanya cinta? Rindu saat dia tak ada, sedih ketika melihatnya bersedih, sakit ketika ia menangis. Dan kini dalam setiap perkataanya seperti sebuah sayatan, aku belum bisa mengatakan aku tau apa yang dia rasa namun aku yakin ini sedikit luka yang rasanya sama dengan miliknya. Mungkin ini perkataan yang benar,”cinta sejati itu berawal dari rasa kasihan.”karena kemudian kita mencoba memahami, mengerti, dan mencintai apa yang ada, apa yang terjadi, serta menerima bahkan mengobati lukanya. Dalam dekapan malam remang lampu ditrotoar telah menyala satu per satu. Malioboro beristirahat. Kami sepasang sejoli yang sedang bertaut rindu, aku dan Rina berjalan menyusuri jalur pejalan kaki diMalioboro. Banyak warung tenda masih buka, kita sebut kucingan. Warung pertama kami hiraukan karena asyiknya bercerita ini itu. Lalu sebuah pertanyaan usil meluncur dari bibir jahilku,”aku dengar kamu sudah kenal aku dari SD apa benar?” langkah kakinya  terhenti mendengar celetukanku itu. Lantas aku jadi berjarak didepanya. Dan aku berpaling melihat kearahnya. Cukup lama kami terdiam, sempat menyesal aku bertanya hal aneh itu. Bibir jinga kecil ituu akhirnya melepas kebungkamannya,”kau ingat Riana wanita hitam tomboy yang dulu pernah kamu kencani? Yang ayahnya pencopet? Itu aku.” Pernyataan itu menjelaskan semua pertanyaan yang selama ini aku timbun dalam benak fikiranku. “namamu Rina permata utami kan?ah kamu bercandakan say. Nama anak iru riana kusuma wardani.”langsung saja tanpa permisi kuhapus jawaban NONSEN itu. “itu nama dari pencopet itu, dia memang seorang kurang ajar. Jadi selama tiga belastahun aku diculiknya diakui sebagai anaknya. Padahal sehari – hariku dia jadikan aku hanya sebagai seorang pembantu. Bahkan aku mencari makan sendiri.”heranku bertambah. “lantas bagaimana bisa kamu menemukan keluarga aslimu?”tanyaku taksabar.”setelah peristiwa penangkapan pencuri itu, lalu seorang peria paruh baya datang menghampiriku. Dia membawaku ke Rumah Sakit dan mengetes darahku. Ternyata selama ini keluarga kandungku memang mencariku. Pencuri iru adalah teman dari ibuku, dia dendam pada ibu yang lebih memilih ayah sebagai pendamping hidupnya.” Kini terjawab sudah semua misteri pernyataan tak karuan tadi. “jadi selama ini kamu menyembunyikan identitasmu yang sebenarnya padakku?”mataku memicing menatap tajam pada mata sipit khas jawa itu.”maafkan aku, aku cuman takut kamu membenciku yang pernah menamparmu karena aku membela lelaki tidak waras itu. Lagian kenapa juga kamu gak sadar kalau mukaku ini tidak berubah?””jadi hanya karena alasan sepele itu? Terus apa alasanmu tidak menghubungiku setelah pemakaman ayahmu?”pemandanagan yang sama kebingungan yang jelas tersirat dari gerak tubuh. Sebuah senyuman nakal ia lontarkan, kali ini aku tak terpengaruh aku berpura – pura marah.”alasannya karena aku cinta kamu, aku dengar si nyinyir itu menceritakan kenyataan bahwa aku adalah pacar pertamamu itu jadi aku takut berjumpa denganmu.”kumenatapnya lekat dibawah lampu jalanan itu jelas kulihat muka tanpa dosa wanita cantikku. Sedihnya aku tak bisa marah didepan bidadari pencuci piring dan otakku. Ku cium keningnya,”jangan gunakan alasan itu lagi aku tak kan mengingat perbuatan nakalmu itu. Mari kita jalani hubungan kita dengan sewajarnya.” Senyumnya makin melebar, lalu dia menyeringai serta menyipitkan matanya.”baiklah sayang.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar