sejak dulu lentreanya tak pernah padam
bahan bakarnya terus terisi seiring waktu berdetak
sejenak mungkin waktu memaksanya berhenti namun tak sekejappun ia lewatkan tanpa kehadiran secercah cahaya penentram jiwa
tikungna tajam terasa tak pernah singgah pada sang hari
hanya embun - embun sejuk yang dia rasa bila mengingatnya
kerlingan mata bersambut senyuman hangat siap disajikan
ketika waktu itu akan tiba
hanya saja buku tetaplah buku dimata sang pujangga hingga senyumnya hanya terhimpit diantara kertas - kertas kusam tak bernama.
_wtaa^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar