Jumat, 14 September 2012

SEGARIS INGATAN

waktu umurku masih bisa dhitung oleh jari tangan, umi menghadiahiku untuk pertama kalinya sebuah buku, buku yang menjadi sebuah awal kegemaranku sampai detik ini, komik. masih terngiang di benakku, waktu itu aku dititipkan dirumah tante ku karena umi pergi belanja. dirumah hanya ada nenekku yang amat bawel sangat sekali :D. Saya kira sampai sekarang belum ada lawan yang sepadan baginya dalam urusan bercerita dan menceramahi anak cucunya, nenekku satu-satunya. kembali pada ceritaku ya, sepulang umi berbelanja aku yang paling kecil saat itu memiliki rasa ingin tahu yang begitu besar(ngratil). kubongkar muatan belanja umi sampai kedasarnya, dan ku temukan komik. bukannya diberikan padaku umi malah terlihat malu karena sebenarnya buku itu akan dijadikan hadiah pada ulangtahunku besok. dan aku mencoba bersabar menunggu hari itu. begitu aku mendapatkannya serta membaca selembar demi selembar, tau apa yang menunggu di akhir cerita? BERSAMBUNG!
omg.... gak yahud bgt deh.... penasaranku bersambung juga.hemh.

berikut beberapa koleksiku :
 





Batu Tak Bertuah












 Sembilan titik sembilan bersama bulan

   Kembali kusadari ku berjalan dikejadian yang sama

       Ditempat kau menemukanku
          Dijalan setapak penuh kerikil dan debu itu


            Semua serasa merdu

               Pernah ku kau sebut kerikil tak bertuah
            Kerikil yang kau asah lalu jadi berlian
        Namun kau jual pada pengepul
     Lalu kau berpaling dan mengambil kerikil lain
  Tak pernah kau pandang apa yang ada didalam diri ini
Kau bersanding dengan kerakusanmu
 Melupakan usahaku menahan rasa yang tak pernah bisa kau pahami
    Karena aku batu.
       Sunyi dan sunyi lagi aku tak mau bergulat lagi


          Hanya susah yang kau beri

      Lalu waktu pun terhenti.

Kamis, 03 Mei 2012

JANJI MALAIKATKU

Ibu kau begitu mengerti apa yang aku butuhkan, apa yang aku inginkan dan apa yang terbaik untuku. Setiap gerakanmu serat akan tulus kasih dan sayang.
Dulu  di sebuah tempat yang indah aku bertanya pada malaikat,”disini begitu indah dan nyaman kenapa aku harus dipindahkan kesebuah tempat yang penuh dengan kotoran? Apakah aku bersalah pada NYA?” malaikat menatapku dengan lembut, dia tidak menampakan sedikitpun rasa kecewa dengan pertanyaanku yang jelas merujuk pada ketidak terimaan pada takdir. Dia menciptakan selukis senyum indah penenang hatiku yang gundah akan kenyataan yang akan aku terima, lahir kedunia. “disana kau akan bertemu makhluk yang melebihi ketulusanku, aku hanya menerima perintahNya. Sedang makhluk itu dengan senaghati merawatmu.” ”berjanjilah padaku wahai malaikat apabila aku tak bertemu dengan makhluk itu bawa aku kembali tinggal diistana Firdaus ini.” Malaikat menganguk. Dengan lembut ia menuntunku menuju sebuah gerbang tinggi sampai tak terlihat ujungnya. Tempat indah itu lama kelamaan mengecil dan menghilang. Dalam sekejap aku ada di dekapan seorang wanita beraroma obat – obatan. Aku bersedih aku seperti kehilangan sesuatu, kini udara yang kuhirup tak sesegar tempat itu. Panas dan baunya tak seharum yang biasa aku datangi. Aku kecewa sekarang aku menagih janji  malaikat bertubuh tegap itu. Hatiku berteriak memangilnya. Dia tak juga menampakan wujudnya. Aku mencoba mengatakan ketidak sukaanku tapi yang keluar adalah butiran – butiran air dengan rasa asin. Semua mengerubungiku, menyelimutiku dengan beberapa lembar kain, lalu aku tertidur. Tak lama aku menginap dalam ruangan penuh bayi . Lalu seorang lelaki membawaku keluar dari daerah berbau obat.
Sembilan tahun kemudian, aku telah cukup pintar untuk menghadapi para pembeli jajanan yang aku jajakan didaerh terminal pulogadung. Aku berjalan dibawah terik matahari setelah pulang sekolah. Setiap hari daganganku laku. Kalau ada sisa ayah pasti memukulku dengan sapu. Jumlah pukulannya bergantung pada jumlah sisa makanan. Jadi aku harus ekstra berusaha menjual danganku.  Rambutku panjang sepantat warnanya kemerah – merahan, rusak karena tak terrawat.
Disekolah aku bukanlah anak yang bodoh, aku suka bertnaya dan bergaul dengan teman – teman. Beberapa anak sangat suka berada didekatku. Irvan dan Halimah, dua teman karibku. Kami selalu bersalip – salipan juara. Irvan yang cerewet dan Halimah yang pendiam. Kadang aku merasa mereka itu tak membutuhkanku untuk bisa bersama. Mereka adalah sahabat kecil. Aku selalu memilih diam memandang pertengkaran kecil mererka. Memandang mereka seperti sebuah cerita indah dimasa kanak – kanak kami. Masalahnya hanya sepele Irvan yang sering bolos piket, Halimah sicuek tapi perhatian pada Irvan. Terlitas dibenakku mungkin suatu saat mereka akan bertemu dalam ikatan lain, teman hidup. Sepulang dari sekolah aku tak langsung menuju pangkalan kerja. Aku berkunjung kerumah Irvan bersama kedua sahabatku. Irvan dan Halimah bertetanggaan. Halimah selalu main kerumah Irvan karena kedua orang tua Halimah sibuk kerja. Orang tua Irvan cuma penjual Gado-gado. Ibunya baik sekali padaku, dia selalu membuatkan gado – gado special pada kami bertiga. Dia tak pernah pilih kasih pada kami. Semua ia sayang, ialah sosok ibu yang mungkin selama ini aku cari. Sedangkan tentang Halimah, ia anak pemilik salah satu hotel berbintang di Jakarta. Tidak cuman itu ibu Halimah juga memiliki toko emas di sebuah pasar. Tidak heran mukanya cantik , badannya berisi, dan otaknya encer. Wajar kadang aku merasa iri padanya. Kami bertolak belakang. Tapi aku tak mau mengasihani diri ini. Aku masi yakin aku hidup didunia ini pasti ada tujuannya.
Dirumah kardus  beratapkan seng  aku terduduk menghadap sebuah buku LKS agama.Pelajaran agama sering membuatku bertanya – tanya. Disana tertulis semua yang tak pernah kudapatkan, kasih sayang orang tua. Hobiku adalah menulis pertanyaan – pertanyaan yang akan aku ajukan pada guru, maka LKS itu kucoret – coret. “kenapa ayah tak pernah memberi aku uang jajan? Padahal ia tampan dan sehat bugar””lalu kenapa ada surga kalau banyak orang memilih berjudi dan membuat maksiat? Bukankah neraka itu akan sangat penuh? Cukupkah tempat itu?””berapa jauh surga dari dunia dan berapa tiket masuknya?” kemudian mataku gelap. Dalam mimpiku aku bertemu malaikat yang harum itu. Kami tak bercakap – cakap. Kami hanya saling menatap, lalu dia tersenyum seindah senyum mentari pagi. Dan aku terbangun.
 Siang itu aku bertemu ayah setelah beranjak pergi dari rumah Irvan. Mata ayah merah, penampilannya lebih lecek dari pada biasanya. Dia berjalan sempoyongan menuju gerbang rumah Irvan, tempatku berdiri. “hoy anak setan! Kemane aje loe, gue cariin loe. Heh, loe gapain ngemis – ngemis dirumah orang gini? Mana uang gue? Sini mana!” dengan gerakan tegas ayah menarik rambutku kuat. Hingga seperti akan copot dari akarnya. Dan benar sebagian rambutku berada ditangan lengketnya bekas minuman keras. Aku memekik kesakitan, “aw ayah sakit...." ayah seperti tak peduli, ia seret aku hingga halaman rumah kardus. Lalu melepaskan jambakannya itu. Sesaat aku menatapnya heran karena ia berlalu lalang masuk- keluar rumah. Akhirnya ia menatapku tajam memegang sebuah gunting hendak memotong rambutku. Aku hanya bisa menagis dan berteriak memohon ampun. Dan seperti biasa ia tak peduli. Setengah jam kemudian rambutku terpangkas habis. Aku seperti seorang biksu wanita.
 Dua hari aku tidur dihalaman tanpa makan sedikitpun. Badanku lemas, penampilanku sudah jauh dari sehat. Suhu badanku menyatakan aku demam tinggi. Aku terduduk disudut depan rumah yang basah karena rembesan embun pagi. Aku tak bisa bicara lagi demam ini membuat sebuah halusinasi. Seorang makhluk yang dulu sempat dijanjikan malaikat datang padaku. Dia mendekapku erat hingga aku tak bisa bernafas. Seketika setelah ia melepas pelukan hangatnya aku telah mencium harum istana firdaus. Aku bertanya padanya,”apakah kau ibuku?” dia seperti malaikat tanpa nama itu. Senyumnya secantik rona wajahnya. Kami berjalan menyusuri tangga berkilau. Karena begitu banyak anak tangganya wanita itu menawariku untuk ia gendong.
Didalam rumah kardus berukuran  2 x 3 ayah terbangun dari pingsannya setelah menenggak lima botol minuman keras dan sebungkus pil. Karena lapar ia keluar mencari anak malang itu. Begitu ia sadar  anaknya telah tiada ia hanya terpaku memandang seongok daging tanpa nyawa. Seketika semua sendinya melemas. Sepintas ia melihat sebuah buku LKS yang penuh dengan catatan aneh, ia mencoba membacanya. Lalu Ia menengadah memandang langit, dan untuk pertama kalinya segaris air mata tumpah menyusuri pipinya.
Kami cukup lama untuk menyusuri tangga panjang bersinar aneh itu. Hingga diujung sana aku melihat sesosok peria tegap ber baju putih dengan sayapnya. Akupun turun dari gendongan wanita itu dan berlari menghampiri malaikat tanpa nama. Aku memeluknya erat. “jangan kemana – mana lagi! aku mohon. Aku akan jadi anak baik.” Dia tersenyum lagi, lalu mengandengku dan berkata,”baiklah mari kita kembali ke istana.” Malaikat menepati janjinya.

Jumat, 13 April 2012

kobaran#




mereka datang satu demi satu dengan senyum yang lebar
dengan segegam emas silaukan mata
segegam padi penuh kenikmatan
dan secangkir kenikmatan dunia
mereka mencoba mengambil beban dipundaknya
mencoba mnghiburnya
dan mencoba jadi berjasa
sejenak mereka layak sebagai pelita
menawan
membuat orang menganga
layaknya pelita yang berkobar api  suatu hari api akan bertanya pada pengelana menagih janji keberhasilannya.

_sayap - sayap rapuh

sudah lama hak itu menghilang
sisa sepi yang dulu kau beri
masih terbisik di telinga ini
hati serta pikiran
sebilah pedang bertuliskan rindu siap menebas rasa benci yang lama terpatri
sayapnya patah setelah sekian waktu kau paksa terbang
tapi tak kau pandang,
hingga sang dewi jatuh, menutup seluruh indranya
mungkin dia hanya pingsan
berharap kecupan hangat mendrat tepat di pori - pori
sayang pangeran itu tuli dan bisu
didapat hanya akhir sepengal tiang.

Kamis, 22 Maret 2012

Darah berbicara

kepingan kaca kembali ditata
tangan tergores terasa perih karena luka yang terbuka
tetesan hening berwarna merah lambat berjalan seperti kisah si pelantun senja
langit di ufuk barat bersemu indah
rona merah ketika wajah itu bergerak layaknya sebuah cerita. manis terasa
gulali tanpa pewarna
lalu sebuah pertanyaan mencuat bergulir menerobos sel kelabu, apakah gulali setulus awan yang berarak? atau seperti sangkaan permen karet yang mudah tertarik seperti hewan liar?

_wtaa

Lentera hati

sejak dulu lentreanya tak pernah padam
bahan bakarnya terus terisi seiring waktu berdetak

sejenak mungkin waktu memaksanya berhenti namun tak sekejappun ia lewatkan tanpa kehadiran secercah cahaya penentram jiwa
tikungna tajam terasa tak pernah singgah pada sang hari
hanya embun - embun sejuk yang dia rasa bila mengingatnya
kerlingan mata bersambut senyuman hangat siap disajikan
ketika waktu itu akan tiba
hanya saja buku tetaplah buku dimata sang pujangga hingga senyumnya hanya terhimpit diantara kertas - kertas kusam tak bernama.

_wtaa^^

Selasa, 06 Maret 2012

Terhentinya Jejak Si Play Boy

Aku berlari dari SMPN 9 Magelang ke rumah hanya karena diputus oleh pacar pertamaku, Riana anak seorang preman, hanya karena aku menghina perbuatan tercela ayahnya. Lalu ku bertemu ayah didekat pagar rumah. Kata ayah, “pacarilah wanita sebanyak – banyaknya tapi nikahilah satu wanita yang paling kamu butuhkan untuk mengisi hidupmu.”dalam hati aku hanya tertawa mendengar perkataan itu, perkataan seorang yang memiliki seorang istri. Walau begitu perkataannya adalah sebuah pedoman bagi ku yang seorang penggelana cinta ini. Hira , Susi, Amelia, Ratri,bla bla bla dan yang sekarang Rina. Wanita kalem dengan segudang ilmu dan kejeniusannya telah mengelitik hatiku. Pesona seorang kutu buku,sebenarnya aku tak ada cinta dengannya hanya saja aku membutuhkannya sebagai seorang guru bagi ku yang memiliki nilai setandar ini. Dia memiliki kulit putih, bibir mungil, rambut panjang hitam terikat, dan selalu mengenakan pakaian rapi khas seorang kutu buku. Niatku hanya menjalani hubungan ini sebatas satu semester. Ya wanitaku selalu seumur jagung. Ini semua berdasar rumus yang dari dulu telah ku pegang. Namun bukannya aku ingin menjahati mereka, kami berhubungan dengan sewajarnya, tak ada kontak  fisik yang berarti. Sikapku tak pernah kurang ajar kepada setiap wanita yang pernah kukencani. Aku pun selalu menembak berdasarkan rasa suka mereka terhadapku yang menurut kaum hawa cukup keren ini. Yah, apa mau dikata aku memang memiliki pesona seorang lelaki keren, aku pemain inti tim basket, bermotor CBR, kantong ketel bertampang indo cina, kata mereka aku cowok baik “beh, kurang apa coba?”ditambah lagi buktinya bahwa aku baik ialah, semua mantanku selalu menangis kalau aku putus, bahkan minta balikan. Ukuran ku terhadap seorang wanita memang awalnya adalah cantik dan seksi, umum memang kalau dipikir, namun itu dulu. Sekarang wanita dimataku dilihat dari kualitas mempertahankan perasaan cintaku kepadanya. Aku tak butuh gombalan, rayuan muarahan atau kematrean mereka. Ya aku tau lelaki tempatnya memberi nafkah, tapi bukan sapi perah kan? Boleh lah minta beli baju, sepatu, dan perhiasan sebulan sekali, tapi kalau setiap hari, emang mau buat toko apa?
Lorong fakultas Arsitektur UNDIP sempit ,serta berkesan kumuh. Setiap hari ku harus melewati jalan yang sama, karena setiap ku melewati jalan yang berbeda wanita baru mengoda mataku. Jujur  aku selalu coba setia. Ya, aku lelaki setia, ku memang tak pernah bertahan lama denagan pacarku tapi aku tak pernah menduakan mereka. Sudah 15 tahun sejak pertama kali ku mengenal wanita dan sudah lebih dari lima puluh wanita beruntung menjadi mantanku. Wanita pertamaku anak seorang berandalan itu entah bagaimana kabarnya, dialah penyebab semua ini. Aku sangat berterimakasih kepadanya dengan perbuatannya kini aku bisa menjadi lelaki yang benar – benar bebas dari kata bosan. Dengan mudah bidadari datang menjadi pendamping hidupku, ketika rasa sudah hilang bidadari berikutnya datang menemaniku mengantikan yang terdahulu. “hahahaha,”sesaat tawaku mengagetkan penghuni lorong kampusku itu. Ah, pasti mereka merasa aku orang yang aneh, biarlah peduli apa aku dengan pikiran mereka. Ku berjalan santai melirik kanan – kiri, mencari Rina. Walau kaya serta tampan, aku jarang memiliki teman pria karena sikapku yang kaku, atau mungkin karena mereka iri dengan semua yang aku punya. “eko!”suara seorang wanita berkulit putih dari arah gerbang. Senyumnya mengembang indah dipandang serta terasa sejuk didalam hati. Rina ku telah dihadapanku, ku gandeng tangannya menyusuri lorong kelas – kelas. Tak sedikit kaum hawa memicingkan mata mereka hendak membunuhnya. “ko, kita bisa lewat perpustakaan aja kan?” mukanya memerah. Namun ku berkeras,”kejauhan na, ini jalan pintas biar kita gak telat.”tangannya sejenak seperi menolak keinginanku, namun tetap takku hiraukan. Akulah yang memiliki kuasa. Sedikit berlari kecil, pikirnku terbebani oleh sebuah tugas belum terselesaikan. Tepat didepan kelas gengamanku terlepas, kuambil ponselku lalu menekan beberapa nomor hendak menelepon komting yang tak lain adalah sahabatku sejak SMA. Dengan lugas dia jawab semua pertanyaanku, lalu sedikit berdalih dan kututup teleponku. Sebuah  senyum yang ku tujukan pada wanita beruntung disebelahku. Senyumnya ikut merekah namaun entah apa yang ia pikirkan tentangku dan aku tak pernah peduli. Aku membuka pembiicaraan tentenang sebuah tugas. Dengan sigap wanita berumur 20 tahun itu mengelluarkan dua lembar kertas foliodan hvs berisi penuh dengan teori dan sketsa. Senangnya hatiku dia benar- benar cepat tanggap, namun untuk sedikit menaikkan gengsiku,”lah rina?apa ini? Akukan cuman minta cetak birunya aja biar teorinya kau sendiri yang cari jadi kamu semua yang ngerjainkan?”berkelit.”udah kelamaan ntarnya eko malah gak bisa on time kumpulin tugasnya, lagian ini kan sekalian cari tugas punyaku yang gak jauh beda.”jawabnya lugu. Kami memang tak satu kelas, kami satu jurusan berbeda kelas. “terimakasih ya sayang”,ku kecup keningnya. Kulakukan ini sebagai upah kerjanya, jahat sungguh tak menyangka kubegini. Dipipi putihnya jelas bersemu sebuah warna merah muda. Sebelum suasana aneh datang aku masuk kekelas dan mengumpulkan tugas sketsa artistikku. Hari ini tugas berhasil sempurna. Siang yang mendung berarak awan putih bercampur kelabu. Kuberjalan santai menyusuri lorong – lorong kampus yang lumayan lengang diakhir minggu. Kebiasaan kampus sepi karena hari jumat adalah hari bagi para pemudik. Sedang aku?selalu mengingat peristiwa ini. Pristiwa dimana saking seringnya diri ini pulang ibuku berdiri tepat didepan ku duduk menonton tv. Dengan berkacapingang beliau berkata,”bola-bali bosen aku deleng koe, iso ra gawe aku kangen? Wis dikei motor, kos apik, sangu akih. Opo meneh....jaluk opo meneh cah lanang?”logat jogja. “hihihi, aku gak buat ibu kangen toh? Terus maunya gimana bu?” ”maunya kamu di Semarang  aja cari kerjaan, cari mantu sing solehah, nek iso cepet lulus! Biar nerusin usaha cetak bapakmu.” Ketawaku pecah,”hahhahahhahhaha”lalu pembicaraan terpotong begitu saja karena masakan ibu gosong.
Yah inilah malam paling kelabu yang sering aku rasakan ketika aku memiliki seorang pacar namun tak pernah sekalipun aku merasa memilikinya, malam minggu. Sebuah lagu milik Eminem terdengar cukup lantang dalam kamar kosku. Minggu ini memang sengaja aku tak mudik, aku pulang tiga minggu sekali. Telepon selulerku berbunyi dari balik bantal biru tuaku. “halo, Gimana rina? Mau jalan kemana?”pertanyaan setandar yang selalu kulontarkan.”kemana aja yang asalkan sayang ada disampingku”jawaban yang menyenangkan namun menjebak karena sesungguhnya wanita ingin dimengerti. Ini merupakan tes kepekaan dan tes kreativitas otak. Harus mengidentifikasi hobi, kesukaan, kebiasaan, dan mood. Kalau keadaannya demikian biasanya dia meinta diajak kelestoran untuk makan karena ini masih cukup sore untuk dibilang malem. “makan yuk?”dari seberang telefon dengan jelas ajakanku meriangkan hati wanita itu. Nilai tes seratus.
Lestoran sederhana dengan pemandanagan yang mengesankan, itu kesukaanku. Dari semua penjuru mata angin aku dapat menghirup udara bebas karena bentuknya yang menyamai pafiliun raksasa. Pesanan telah diantarkan, aku biarkan rina menikmati hidangan yang ia pilih sendiri. Dia tidak suka kopi, dia suka susu coklat dan makanan gurih. Selera makan kami sama cuman aku suka kapucino. Yah baru terasa menyenangkan ketika diposisi ini serta dalam suasana begini. Atau mungkin aku sudah mulai terbiasa dengan keadaan ini?bersamanya? terserah saja aku tak pernah memaksakan kehendakku sampai detik ini. Biarkan cinta datang seperti sebuah hadiah terindah. Lestoran semakin penuh pengunjung setelah berjam - jam kami berada disana. “sayang, selamat ulang tahun ya? Nih kado kecil dari aku.”perkataan yang mengejutkan.”aku ulang tahun? Loh dari mana rumus itu? Aku kan ulang tahun tanggal19 ju...”lalu ingatanku kembali bahwa memang hari ini aku ulang tahun.”ah sayang makasih ngingetin aku, biasanya gak ada yang sadar.” ”jadi aku yang pertama?” “ya jelas kan sekarang jam berapa? Udah ayo pulang, wanita gak baek pulang pagi – pagi.”sadar kah kalian perkataanku kelise?”iya sayang tapi kita tunggu dulu kue tart yang uda aku pesen”haduh, dasar cewe. Memang ulang tahun bukan ulang tahun tanpa kue tart? Dari mana sih itu sejarah rasanya ingin ku bunuh pembuat kue tart aneh itu. Pencetus per ekonomian penguras kantong. “masi lama gak?” “tidak sayangku itu uda diarak”menunjuk peramuria yang cukup seksi datang kemeja kami. Didepan kue yang telah terwujud lezat bertabur coklat dan beberapa lilin aku melihat ketulusan dimata wanita cupu itu. Semoga ini hanya perasaan kagum. Memang hari ini dia nampak lebih modis, lebih bisa aku hargai sebagai seorang wanita. Dia memang tau cara menjadi seorang wanita. Terbersit di pikiranku mungkin dia memang kekasihku. Kutiup lilin berbentuk angka dua puluh itu. Berikutnya tepukan tangan riang kekasihku yang beraksi. Tepat pukul satu kami sudah sampai dikos Rina, didepan gerbang entah darimana perasaan itu aku bergerak reflek memeluknya dan mengecup keningnya. Sungguh sepatah katapun aku tak bisa berkata – kata karena terlalu berterimakasih pada malam ini.
Bangunku kesiangan, jam dinding menunjukan pukul sebelas. Kuraih telepon gengamku lima sms telah aku terima. Lima sms duka, ayah Rina meninggal semalam. Hari ini ia pulang kerumahnya dijogja. Malam hari seorang wanita teman sekelas Rina datang kekos. Wiwit wanita bertubuh gemuk berkulit coklat tua. Dari bahasanya aku tau dia satu daerah denagan Rina. Dia banyak bicara sedang aku kebanyakan diam mendengarkan. Dari diam kita jadi lebih banyak tau, begitupun sebaliknya dengan banyak bicara kita jadi lebih banyak diketahui. Klise lagi. kembali pada keadaan aneh wanita gemuk yang tiba – tiba datang menghampiriku. Wiwit memberi tahuku bahwa Rina sungguh mencintaiku, dari sisi ini mungkin agak mengejutkan karena seringnya ku yang merepotinya. Namun apa daya wanita yang terkena pesonaku. Sombong sedikit bolehlah. Tapi pernyataanya yang berikutnya membuatku sangat tertohok. Dia mengatakan bahwa cintanya sudah ia miliki sejak masa SMP. Pertanyaanku kemudian muncul bertubi – tubi namun dengan cepat dan lugas wanita gendut itu menjawab setiap pertanyaan ku. Hanya satu yang tak dapat ia jawab hingga pertemuan kita berakhir. Apa pekerjaan ayah Rina?
Seminggu sudah kami tak berjumpa. Entah bagaimana kabar dan kesibukannya. Yang jelas nomer teleponnya sampai sekarang tak dapat dihubungi. Kami menggantung, itu pikiranku. Jelek memang, namun aku baru pertama kali merasakan hal seperti ini. Ketika semua dengan mudah aku putuskan, dia dengan mudahnya mengacuhkan aku yang masih berstatus pacarnya. Sungguh balasan yang tiba – tiba datang. Anehnya lagi tak sedikitpun rasa ingin ku memutusknnya atau menduakan hubungan mengantung ini. Padahal dengan mudah aku bisa mendapatkan wanita lain. Mungkin masalahnya aku sudah terbiasa dengannya, atau memang tak ada yang menyamai perasaan aneh ini yang ku dapat darinya.
Dua minggu, ini cukup untuk sebuah kesabaran. Usaha menelepon sudah, mendatangi kosnya, menanyai wanita gendut itu, hingga mencari informasi alamatnya. Hari jumat ku kebut kendaraanku menuju jogja. Jogja kota seni hari ini dan hari biasa tak ada tidur bagi kebudayaan disana. Nuansa kental akan etnis dan budaya. Walau begitu menara suar masjid masih terdengar disela – sela kesibukan mereka. Tak diragukan lagi betapa nyamanya hidup disana. Orang – orangnya ramah sera bersahaja. Sayang aku tak memiliki peta jogja dan bahayanya aku buta arah. Beberapa kali aku memutari sebuah wilayah. Malu bertanya sesat dijalan terbisik dibatinku. Lalu mulutpun memberanikan untuk bertanya, alhasil alamat tujun pun ditemukan. Sebuah gang ditengah – tengah Malioboro. Ibunya mengelola sebuah rumah makan sederhana dalam gang sempit di tengah Malioboro. Mengesankan, warung itu tetap penuh pengunjung. Dan sekelebat wujud wanita yang ku cari hadir didepan mata.”Rina!”teriakku. Dia menoleh, sejenak menatap heran dan kemudian menghampiriku dengan tangan penuh cucian piring. Sungguh indah segaris senyum tulus yang ia lontarkan padaku. Sedetik tadi seperti aku melihat seorang bidadari pencuci piring, ku tersenyum membalasnya. Kami mengobati kerinduan satu sama lain. Mungkinkah ini yang namanya cinta? Rindu saat dia tak ada, sedih ketika melihatnya bersedih, sakit ketika ia menangis. Dan kini dalam setiap perkataanya seperti sebuah sayatan, aku belum bisa mengatakan aku tau apa yang dia rasa namun aku yakin ini sedikit luka yang rasanya sama dengan miliknya. Mungkin ini perkataan yang benar,”cinta sejati itu berawal dari rasa kasihan.”karena kemudian kita mencoba memahami, mengerti, dan mencintai apa yang ada, apa yang terjadi, serta menerima bahkan mengobati lukanya. Dalam dekapan malam remang lampu ditrotoar telah menyala satu per satu. Malioboro beristirahat. Kami sepasang sejoli yang sedang bertaut rindu, aku dan Rina berjalan menyusuri jalur pejalan kaki diMalioboro. Banyak warung tenda masih buka, kita sebut kucingan. Warung pertama kami hiraukan karena asyiknya bercerita ini itu. Lalu sebuah pertanyaan usil meluncur dari bibir jahilku,”aku dengar kamu sudah kenal aku dari SD apa benar?” langkah kakinya  terhenti mendengar celetukanku itu. Lantas aku jadi berjarak didepanya. Dan aku berpaling melihat kearahnya. Cukup lama kami terdiam, sempat menyesal aku bertanya hal aneh itu. Bibir jinga kecil ituu akhirnya melepas kebungkamannya,”kau ingat Riana wanita hitam tomboy yang dulu pernah kamu kencani? Yang ayahnya pencopet? Itu aku.” Pernyataan itu menjelaskan semua pertanyaan yang selama ini aku timbun dalam benak fikiranku. “namamu Rina permata utami kan?ah kamu bercandakan say. Nama anak iru riana kusuma wardani.”langsung saja tanpa permisi kuhapus jawaban NONSEN itu. “itu nama dari pencopet itu, dia memang seorang kurang ajar. Jadi selama tiga belastahun aku diculiknya diakui sebagai anaknya. Padahal sehari – hariku dia jadikan aku hanya sebagai seorang pembantu. Bahkan aku mencari makan sendiri.”heranku bertambah. “lantas bagaimana bisa kamu menemukan keluarga aslimu?”tanyaku taksabar.”setelah peristiwa penangkapan pencuri itu, lalu seorang peria paruh baya datang menghampiriku. Dia membawaku ke Rumah Sakit dan mengetes darahku. Ternyata selama ini keluarga kandungku memang mencariku. Pencuri iru adalah teman dari ibuku, dia dendam pada ibu yang lebih memilih ayah sebagai pendamping hidupnya.” Kini terjawab sudah semua misteri pernyataan tak karuan tadi. “jadi selama ini kamu menyembunyikan identitasmu yang sebenarnya padakku?”mataku memicing menatap tajam pada mata sipit khas jawa itu.”maafkan aku, aku cuman takut kamu membenciku yang pernah menamparmu karena aku membela lelaki tidak waras itu. Lagian kenapa juga kamu gak sadar kalau mukaku ini tidak berubah?””jadi hanya karena alasan sepele itu? Terus apa alasanmu tidak menghubungiku setelah pemakaman ayahmu?”pemandanagan yang sama kebingungan yang jelas tersirat dari gerak tubuh. Sebuah senyuman nakal ia lontarkan, kali ini aku tak terpengaruh aku berpura – pura marah.”alasannya karena aku cinta kamu, aku dengar si nyinyir itu menceritakan kenyataan bahwa aku adalah pacar pertamamu itu jadi aku takut berjumpa denganmu.”kumenatapnya lekat dibawah lampu jalanan itu jelas kulihat muka tanpa dosa wanita cantikku. Sedihnya aku tak bisa marah didepan bidadari pencuci piring dan otakku. Ku cium keningnya,”jangan gunakan alasan itu lagi aku tak kan mengingat perbuatan nakalmu itu. Mari kita jalani hubungan kita dengan sewajarnya.” Senyumnya makin melebar, lalu dia menyeringai serta menyipitkan matanya.”baiklah sayang.”

Rabu, 11 Januari 2012

KEBUTUHAN HATI


Gemerlap lampu ibukota membutakan batin sebagian orang. Moral seperti terhempas dengan mudahnya, tergadai oleh kenikmatan sesaat. Di pojokan wanita muda dengan kerudung hitam yang suka menyendiri. Keadaan sekitarnya begitu porak poranda karena mulut para munafik. Mereka itu sungguh tau dimana tempat yang paling menyakitkan baginya. Setetes demi setetes air mata tak berdosa dalam diri wanita itu mengalir keluar. Mereka merasa dunia luar begitu dingin tanpa penghangat yang hadir menemani wanita itu. Mereka bertanya – tanya, apakah tak adil seperti ini dunia nyata itu? Lalu dengan sedikit gerakan wanita itu menyeka mereka hingga hening kembali ditiupkan sang waktu. Kemudian jenuh datang kini giliran wanita itu bergerak, maka sang waktu bersanding dengannya. Lelah pun berbisik pada wanita itu, “kau tak sekuat sang waktu sudahlah berhenti sejenak! Aku berjanji akan menemanimu.” Maka wanita itu berhenti sejenak, namun lelah ingkar janji. Wanita itu mengerutkan dahinya, kemudian berjalan tanpa tujuan. Mulutnya bergetar sejenak, “waktu”. Seketika itu juga ia berlari menyusuri jalan beraspal diantara sawah dan kali dibagian kiri. Dengan cepat ia berlari hingga ia melihat sebuah gazebo ditengah sawah. Disana beberapa orang telah asik mengobrol dengan riang, dari jauh terdengar tawa. Tawa mereka memberi sedikit semangat baginya untuk mempercepat langkahnya. Rindu kini mengambil alih peran dilubuk hatinya,”mereka yang kau tunggu.”sebuah sapaan jelas, serempak, dan kencang itu mempertegas kebenaran rindu. Seketika sang waktu tersenyum dan menghentikan langkahnya.

Benang Merah yang Lama Terikat


Anak pertama sebuah julukan yang amat biasa ditelinga manusia. Mungkin untuk beberapa abad silam, namun bagiku sekarang itu sungguh memilukan. Aku anak pertama dari tujuh bersaudara di era pramoderen. Sita julukan ku, julukan yang entah dari mana asalnya. Karena sesungguhnya namaku sartika maharani. Ayahku seorang tukang cetak, ibuku pemilik sebuah toko minimalis di sudut desa. Bisa dibayangkan betapa memaksakannya merka melahirkan ketujuh anaknya serentak diera keluarga berencana. Terpaksa beberapa adikku putus sekolah untuk menunggu aku lulus dari perkulihan. Merekalah semangat ku selama tiga tahun ini. Mereka malaikat – malaikat kecil yang selalu ada untukku. Senyum mereka adalah oase penghilang dahaga jiwa.
Kos ku berada di perumahan sederhana bernama Vila Tembalang. Pagi ini aku dijemput pacarku, kami sering berangkat kuliah sama – sama. Namanya idris anak perantau, tubuhnya lebih gemuk dariku tingginya beberapa senti diatas ku. Kami pasangan yang paling aneh menurut teman – teman. Dimana kami ini jarang sms atau pun bertelepon selayaknya sepasang kekasih. Kami hanya mengedepankan rasa percaya dan tengangrasa. Kami ga butuh gombalan yang hanya terluncur dalam hitungan detik tapi kami butuh tindakan nyata. Sudah dua tahun kami bersama. Dia kakak tingkatku jurusan teknik mesin pesawat. Sudah 30 menit ku sabar menunggunya, dibawah pohon jati dekat kosan ku aku berteduh dari panasnya kota Semarang. Sungguh diluar dugaan jam tangan ku menyatakan aku akan segera terlambat datang, karena menunggu si Idris. Lima menit kemudian dia datang dengan wajah lusuh dan keringat bercucuran. Marah ku luntur bersama tetesan demi tetesan air didahinya. Kudatangi dia dengan sebuah senyuman serta sebuah serbet kuusap keringatnya.”yang dari mana aja udah telat lo.”bukan suara yang aku harapkan,”gila supir angkot Tembalang ini sudah motor ku didesaknya ga mau ngaku juga, jelas – jelas saksinya banyak. Dasar angkot anjing!”teriakan amarahnya membuat ku kaget. Selama ini dia jarang mengumpat seperti ini. “yang! Ngomong apa?”sindirku mengingatkan. “ah sudah lah ayo kita berangkat.” Akhirnya aku benar – benar telat mengikuti mata kuliah pertama ku.
Setelah 2 jam mengikuti perkuliahan perutku terasa sangat terguncang, dalam artian lapar. Aku berjalan santai menuju kantin kampus dalam lorong berukuran satu setengah meter aku berpikir dimana Idris sekarang, saat hendak ku pencet tombol di hand phone, ku lihat seorang wanita bermuka mungil menghampirinya dan mengandeng tangannya lalu mereka berlalu. Apa maksud dari kenyataan yang baru saja terjadi didepan mataku ini. Karena penasaran ku ikuti mereka, lantai tiga sebuah lantai yang akan menjadi saksi bisu apa yang sebenarnya terjadi. Aku tau dia seorang aktifis, aku bisa memaklumi semua yang ia lakukan, melalikan janji kencan, melupakan hari jadi kita. Tetapi aku tidak bisa mentolelir aku bukan lagi satu – satunya bagi dia. Ruang gelap didekat kamar mandi peria itu lokasi mereka berada. Dua pasang sepatu berwarna merah dan coklat. Pintunya sedikit terbuka, dari celah sempit itu aku melihat kedekatan jarak mereka. Kutunggu waktu yang tepat. Posisi yang aku lihat sekarang wanita itu menghadap tembok didepan Idris. Mereka berjajar seperti sedang membuat sebuah garis. Mereka bicara begitu lirih hingga tak bisa kudengar apa yang mereka bicarakan. Lama – lama Idris bangkit dari sandarannya ditembok belakang, lalu mereka bertatapan lekat. Hatiku semakin panas, rasanya ingin kubunuh pacarku mungkin itu judul yang tepat untuk mengambarkan perasaan ku saat ini. Tangan wanita itu menggandeng Idris lagi, lalu dia tersenyum manis, air mata wanita itu meleleh deras. Wanita itu terjongkok didepan Idris. Wajar Idris ikut berjongkok lalu berlahan gerakan menghibur dilakukannya. Mereka berpelukan cukup lama sekitar 10 menit. Sebenarnya ingin ku berteriak, namun terlanjur tidak sampai hati. Mungkin memang baiknya terjadi untuk membuat wanita itu sedikit lega. Aku wanita pastilah ku juga ingin dihibur tatkala sesuatu yang menyakitkan menghujat lubuk hati ku ini. Mungkin memang sebaiknya tidak memiliki perasaan. Sehingga rasa sakit itu juga tak pernah ada.

Sepulang dari kampus aku telepon Idris, “maaf sayang aku lagi ada rapat”. “oke, ntar lo uda selesai sms ya. Lo ga telepon balik.” ”ea.”sering ku berpikir aku hanya sebuah selingan bagi dirinya. Hanya sebuah penghibur ketika dia merasa bosan dengan kerutinitasannya. Sungguh membuat ku merasa sangat sedih harus merasa sendiri ketika aku memiliki seorang kekasih. Berkali – kali ku ingin melepaskan rasa penat karena harus bersabar dari sikap egoisnya. Tetapi aku sungguh masih menyayanginya. Sungguh jujur dari lubuk hati yang terdalam aku mencintainya. Bukan rupa atau kekayaannya yang aku lihat, dia memiliki sesuatu yang dari dulu ku ingin kan. Ketegasan, kasih sayang, dan sedikit perhatian. Ya sedikit perhatian yang amat membuatku merindukan kembalinya perasaan itu. Idris sang penyayang. Dia dilantai tiga, aku dilantai satu,  aku emang tak suka berkumpul dengan anak – anak buletin. Selain tukang gosip, mereka juga kurang ramah. Sangat membosankan, berkesan kaku. Aku tidak nyaman dengan mereka. Sok  sekali berkeluarga nyatanya saat aku datang tak ada keramahan yang menyelimuti mereka. Hanya dingin dan sunyi yang ku dapat. Aku terus menunggu hingga penduduk lantai satu bisa dihitung dengan jari. Tak sabar juga setlah ku lihat jam tanganku waktu menunjukan pukul 07.00 WIB. “hah! Mana dia?”sontak ku matikan leptop ku yang sedari tadi menemaniku menunggu lelaki aneh itu. Ku telepon dia”yang kamu dimana?” “aku uda ada dikos yang, kenapa?””buset kamu lupa aku nungguin kamu dari tadi, aku masi di kampus taokkkkkkk, jemput sini!” “ea ea yang sabar ya, mas datang membawa kuda putih, hohoho””ah mana ada itu, yg ada motor astrea butut, berlagak segala dah ayo cepet ksini!” “siap nyah, nyahnya bawel banget deh.” Tut.... pembicaraan telepon yang singkat, tadi itu sungguh menyenangkan. Walau sangat sepele tapi suasana renyah dan aneh itu yang paling ku suka dari perjalanan hubungan kita. Kami selalu sabar satu sama lain. Sepuluh menit kemudian dari kejauhan sekian meter terdengar teronton alias astrea butut si Idris. Dalam hati aku sedikit terbahak,dimukaku tergurat selembar senyum tulus yang ku persembahkan hanya untuknya.
Paginya seperti biasa burung kutilang tetangga sebelah kos ku berkicau menyapa hari baru. Ku diam merasakan kesegaran yang amat berbeda jauh dari kenyataan bahwa ini udara kota besar, Semarang. Telepon gengamku berdering nyaring, sebuah sms singkat dari Idris. Dia mengatakan semalam lembur jadi tidak bisa mengantarkan ku berangkat kuliah. Apa boleh buat, tengangrasa adalah moto kami. Walau seringnya aku yang mengalah. Aku memilih diam saja karena ini belum begitu keterlaluan. Jempolku nakal hendak menanyakn perihal tentang peristiwa kemarin, namun kuurungkan.
Setelah siap semua persiapan serta wujud yang serupa bidadari telah ku ciptakan, aku siap berangkat. Kucegat angkot didepan tugu. Lama sekali ku menunggu, lalu entah perasaan apa yang membelit hati serta pikiranku. Kakiku bergerak masuk kekawasan kos Idris yang tak jauh dari halte didekat tugu tadi. Di depan kosannya kutemukan sepasang sepatu wanita. Sekali lagi aku melihat pemandangan serupa. Aku berteriak membangunkan seantero kos cowok itu. Sontak Idris menghampiri aku dan mencoba menjelaskan apa yang terjadi. Namun aku kalap, mataku gelap oleh api cemburu. Kutampar mukanya lalu tangisku meluap, aku berlari sekuat tenaga. Lari terus lari, hingga nafasku habis dan lututku lemas. Entah dimana aku berhenti saat itu yang pasti aku menjerit sekuat – kuatnya lalu terduduk hingga amarahku mereda beberapa jam kemudian.
Lamunku mengingat awal kami berjumpa, dia begitu sadis tak banyak bicara. Dia sungguh bukan tipeku bukan impianku selama ini, gendut, coklat, bermuka bulat. Lambat taun kami berjumpa dalam dunia maya. Aku jail mengomentari tulisan – tulisannya. Semakin lama dia semakin mendekatiku hingga kami mulai sering janjian berjumpa, joging, nonton bersama. Lalu mulai sekitar sebulan kemudian dia memberanikan diri memintaku menjadi pacarnya. Aku tolak karena melalui sms dan aku berkata lebih menghargai cowok yang berani bicara secara langsung. Aku lupa kalau dia itu salah satu aktifis mahasiswa, ketua dari buletin kampus. Dengan senang hati ia kabulkan keinginanku. Kami akhirnya jadian. Hambatan berikutnya kami harus sabar dengan hinaan, ejekan, serta pendapat anak – anak kampus. Tapi kami tulikan kuping kami karena cinta. Sesungguhnya pada saat itu aku belum benar – benar mencintainya sehingga hanya rasa kasihan yang ada. Kini ketika cinta itu berkembang dan menguasai diri ku, rasanya sangat menyakitkan. Apalah sebenarnya maksud dari sekenario Tuhan ini?
Seminggu sudah ku menunggu kepastian hubungan kita, dia terlalu angkuh, dia tak pernah mau mengalah. Akhirnya kunyatakan ini berakhir, sungguh aku ingin mendengar kenyataan sebaliknya, karena didalam hatiku masih tertanam setitik harapan. Beberapa detik kemudian tangan ini sudah mengegam telepon hendak menyudahi derita dalam hati. Sebuah sms masuk dengan jelas tertulis namanya dilayar. Kini ku balas dengan ketus. Hanya maaf yang ia tulis didalam sana. Terus dan terus, tak kuat lagi akhirnya kata putus itu keluar juga. Benang merah yang terlilit didiriku kulepas paksa.
Baru ku tau ternyata aku tak sepemaaf DIA, sudah sebulan kami tak berhubungan. Kuakui ini sesuatu yang menyakitkan. Otakku usil hatiku bergemuruh rindu tiada henti. Komputer didepan mata seperti transparan. Hatiku membajak para pekerja diotakku. Kubuat akun baru bernama Laila, ku sekedar mencari pelipur hati ku. Dan itu berkelanjutan untuk kedua kalinya aku jatuh cinta pada orang yang sama. Ia masih merindukan aku, sungguh teguh terhadap hubungan yang telah lama kupandang berakhir. Namun dimatanya kita hanya sejenak beristirahat melepas hubungan, mencari obat dari kebutuhan masing – masing hati yang berbeda. Aku sangat tahu dia memang dewasa dan cerdas. Dua unsur tersebut yang membuat ku betah hadir disisinya. Ketika dia bercerita semua terasa berhenti, hanya suaranya yang aku dengar,rayuan tak jelas meluncur dari mulutnya ketika kita berdua. Walau terasa sangat kaku tapi aku merasa nyaman didekatnya,yang kutakut sebaliknya dia tidak nyaman dengan aku bersanding dengannya didepan teman – temannya. Sering kuberpikir aku hanya sebagai teman jalannya, hingga ia tak nyaman bersandingku didepan mereka. Lebih – lebih sebagian besar komunikasi kita hanya sebatas sms, selebihnya hanya sebuah setatus yang kosong. Kalut pikiranku menimbang – nimbang apa masih pantas Idris diperjuangkan?
Hari Kamis ini kuliahku dimulai jam tujuh pagi. Berasa anak SD,berburu angkot bersama anak – anak sekolah. Senyumku jelas tersunging, hatiku terbahak – bahak, rasanya sudah lama sekali aku tak menyadari betapa asiknya menunggu angkot dengan hati deg – degan antara telat dan keberhasilan datang tepat waktu. Dalam angkot aku menerawang melihat betapa mesranya hubungan ku dengan Idris selama ini, lalu aku tersenyum kecut ketika mengingat kenyataan kau telah singel. Lalu aku sedikit mendengus, dan mengedarkan pandanganku keawan yang berarak. Ternyata tanpa dia juga gak ada bedanya, aku tetap hidup, aku tetap bernafas dan bisa tersenyum. Yah aku sudah rela.

permukaan APA awal?

 
kau_
diam q mengagumimu
tersedak q memikirkanmu
kau sebuah cerita indah yang pernah q miliki
sebuah mendung berair tawa
sederet kisah sepele
sebuah album persahabatan
tulusmu menguatkn ku
kau indah
sesosok panutan tanpa hinaan
sesuatu yang ku kejar namun q terhenti habis nafas ku.
kumasih menunggu diatas rumput kering ini
rumput tempat bermain layangan.


sepucuk daun hati_
kutuliskan sebuah lagu hati di sepucuk daun
ku tulis jelas namanya
hingga habis luas dan lebar daun itu
kusimpan hingga mengering benar benar kering hendak rapuh
tapi tak jua yang dituju datang menanyakan lagu itu,
ya mungkin dia benar - benar sudah lupa.